Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bangun Komunikasi Dengan Rakyat

Elit Politik Kudu Optimalkan Medsos

Minggu, 17 Oktober 2021 07:10 WIB
Ketua Umum FPPI yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas Sahid sekaligus Penulis Buku Marlinda Irwanti (tengah), Wakil Ketua Komisi X DPR Fraksi Golkar Hetifah Sjaifudian (kanan) dan Chief Executive Editor Rakyat Merdeka Sarif Hidayat (kiri), berbicara dalam Peluncuran dan Bedah Buku
Ketua Umum FPPI yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas Sahid sekaligus Penulis Buku Marlinda Irwanti (tengah), Wakil Ketua Komisi X DPR Fraksi Golkar Hetifah Sjaifudian (kanan) dan Chief Executive Editor Rakyat Merdeka Sarif Hidayat (kiri), berbicara dalam Peluncuran dan Bedah Buku "Komunikasi Elit Politik" di Perpustakaan Nasional, Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Sabtu (16/10). (Foto: Tedy Octariawan Kroen/RM)

 Sebelumnya 
“Hati-hati kaum ibu, demokrasi kita itu berdasarkan suara terbanyak. Kita harus bisa memberikan literasi kepada masyarakat bagaimana cara memilih,” ungkapnya.

Anggota DPR perideo 2014-2019 ini merincikan, bukunya kali ini terdiri dari lima bab. Pertama, tentang teori dan konsep elit politik. Kedua, mengenai budaya politik di Indonesia. Ketiga, terkait simbolisme. Keempat, model politik. Terakhir, membangunmedia baru dalam konteks komunikasi elit politik.

Berita Terkait : Syarief Hasan: Diversifikasi Pangan Perlu Dioptimalkan

Menurutnya, buku ini juga bisa menjadi acuan para politisi, misalnya legislator atau eksekutif untuk lebih mempelajarai media baru dalam komunikasi politik ini. “Termasuk, kepada calon legislatif (caleg) yang nantinya akan masuk ke ruang politik praktis,” katanya.

Di era media sosial, Marlinda menyebut, komunikasi politik bisa dibangun dengan cepat dan murah. Tinggal bagaimana mengemas dengan baik sehingga pesan politik antara elit politik dengan masyarakat bisa tersampaikan dengan baik.

Berita Terkait : Hoaks Kian Marak, Gus Jazil Ajak Milenial Pandai Gunakan Medsos

“Mudah-mudahan bisa dimanfaatkan elit politik, untuk bisa memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. Khalayak tidak boleh hanya menjadi objek, tetapi subjek, yang bisa memberikan aspirasinyakepada publik,” tutupnya.

Sedangkan Hetifah Sjaifudian menyambut baik karya terbaru dari sahabatnya itu. Wakil Ketua Komisi X DPR itu mengamini, saat ini ada problem komunikasi politik yang bisa menjadi distorsi, jika aktor politik tidak memiliki literasi atau kemampuan berbahasa yang baik. “Literasi ini yang harus kita bangun bersama,” katanya.

Berita Terkait : Belajar Dari Inggris, Indonesia Kudu Optimalkan PLTU Batubara

Hetifah secara khusus menyoroti Bab V buku karya Marlinda. Yakni, tentang media sosial yang bisa menjadi arena komunikasi politik para elit. Dia menyebutkan, di dunia usaha dan bisnis, review buruk sebuah produk oleh netizen bisa mempengaruhi orang untuk tidak membeli. [BSH]