Dark/Light Mode

Curhatan Soal Poligami

Selasa, 23 Juli 2019 06:57 WIB
Ngopi - Curhatan Soal Poligami
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Pro kontra wacana Pemprov dan DPR Aceh mau melegalkan poligami membuat saya teringat pada seorang wartawati dari media ternama. Dia pernah menanyakan bagaimana pendapat saya soal poligami.

Juga cerita kontributor televisi swasta nasional yang beristri dua. Saat itu, saya lupa hari dan tanggalnya, wartawati itu kebetulan duduk bersebelahan dengan saya di pesawat dalam perjalanan kembali ke Jakarta.

Saya heran kenapa dia menanyakan itu. Kening saya sempat mengernyit sejenak. Mencoba mencari kata-kata apa yang pas untuk menjawab pertanyaannya. Sebab, saya bukan orang kompeten untuk menjawab pertanyaan itu.

Saya bukan pakar di bidang poligami, bukan juga akademisi Islam yang hafal rujukan ayat Al-Quran dan Hadits. Lagi pula, ini perkara sensitif. Salah jawab, bisa berabe. Apalagi yang nanya lebih senior. Jabatannya sudah redaktur. Meskipun hanya selisih beberapa tahun saja usianya dengan saya. Jilbabnya panjang pula.

Baca juga : MK Hentikan 58 Gugatan Hasil Pemilu

“Tentu kajian agamanya le bih kuat,” gumam saya dalam hati. Akhirnya, jawaban saya ketika itu adalah pertanyaan. Ya kodratnya wartawan, yang ada di kepalanya adalah pertanyaan.

“Emang kenapa Mbak?” tanya saya singkat, dengan nada suara yang saya usaha netralkan. Lalu ia menceritakan pangkal perkaranya. Panjang lebar. Perihal istri lebih dari satu itu cukup mengganggu pikirannya. Padahal dia belum menikah.

Singkatnya. Dia dilamar sama pria beristri satu dan sudah punya anak. Sebenarnya si wartawati punya pacar. Tapi pacar yang ditunggu-tunggu tak kunjung melamarnya.

Sementara keluarga besarnya terus bertanya-tanya: kapan nikah? Di Ibukota, dia juga sendirian. Dia juga baru saja mengambil KPR di daerah pinggiran Jakarta. Perkenalannya dengan sang pelamar juga bermula ketika si suami orang itu mengantar perabotan ke rumahnya.

Baca juga : Bank Mandiri Pastikan Saldo Nasabah Pulih 2-3 Jam Lagi

Karena telah mengantongi nomor kontak si wartawati, Si pria ini kerap menyapanya lewat Whatsapp dan ber diskusi tentang kebaikan-kebaikan dari Poligami.

Saat melamar, sang pria juga mengaku sudah mendapat restu istri. Dia juga berjanji akan berlaku adil. “Apa iya suami bisa berlaku adil?” tanya dia lagi.

Di tempat terpisah, saya kemudian dipertemukan dengan sosok pria yang sudah berpoligami. Wartawan juga. Dia kontributor salah satu televisi nasional.

Ia ketahuan punya istri dua setelah melakukan video call dengan anaknya. “Itu anak dari istri kedua,” ucap dia. “Gimana rasanya, Bang, punya istri dua,” tanya saya, penasaran. “Pokoknya kamu jangan poligami, Dek. Ingat pesan saya,” tegas dia.

Baca juga : Penghasut Sosial Media

“Loh kok gitu, Bang?” respons saya. Dia lalu menceritakan kisah pilunya semenjak beristri dua. Dia menjadi tidak akur dengan istri pertamanya. Sering bertengkar. Bawaan istri setiap melihat wajahnya adalah emosi dan marah-marah.

“Rasanya mau pecah kepala,” ungkapnya. Istri pertama sebetulnya sudah minta cerai sejak ia ketahuan ingin menikah lagi. Tapi ia menolak.

“Karena saya sama dia itu sejak zaman susah-susahnya. Waktu kami masih tinggal di rumah petakan. Dia berjuang dengan saya mulai dari nol,” tuturnya.

Dari kedua cerita itu, saya lebih ke pendengar yang budiman. Tidak dalam posisi pro maupun kontra. Hanya ada rasa penasaran: naluri wartawan. ***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :