Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Redaktur
RM.id Rakyat Merdeka - Awalnya cuma iseng-iseng isi kesibukan dengan pelihara ikan guppy di akuarium. Mulai dari satu pasang, ikan ini rupanya mudah berkembang biak.
Dalam satu bulan, jumlahnya bisa jadi ratusan. Pas dijual laku dan harganya lumayan. Bisa buat tambah-tambah cicilan KPR rumah bersubsidi.
Kalau bagi masyarakat di Jabodetabek, ikan dengan ukuran kurang lebih 2-3 centimeter ini biasa dikenal dengan ikan cere, walau sebenarnya berbeda.
Karena ikan guppy yang saya pelihara penuh warna-warna menarik. Mulai dari badan sampai ekor nya. Kalau ikan cere, warna hanya di bagian ekornya.
Sekitar tiga bulan lalu, saya bawa satu pasang dari rumah paman, yang memang hobi ikan hias. Awalnya hanya untuk pengisi akuarium yang sudah lama kosong.
Baca juga : Mati Kebanyakan Duit
Daripada jadi bangkai, mending dirapikan lagi dan diisi ikan hias agar tidak jadi sarang nyamuk Aedes Aegypti.
Perawatan ikan guppy ini juga mudah. Kita tidak perlu repot-repot kasih makan umpan hidup seperti cacing sutera atau kutu air. Cukup di beri pelet atau pakan olahan.
Setelah dua minggu, rupanya ikan ini berkembang biak sangat mudah. Tidak perlu perlakuan khusus. Untuk pakan anak guppy, cukup menggunakan pakan pelet yang dihaluskan.
Dalam satu bulan, ukuran anak guppy sudah hampir sama dengan indukannya. Saya pun mulai bingung untuk menempatkannya, karena akuarium yang saya miliki hanya berukuran 40x20 centimeter.
Kebetulan ada kerabat yang berjualan ikan hias di Pasar Burung Jatinegara. Saya pun coba tawarkan untuk membawa ikan guppy yang sudah cukup besar untuk dijual. Saya hitung ada sekitar 150 ekor.
Namun saya tidak mematok harga, “Bawa aja dulu, terseran nanti dijual berapa aja,” kata saya. Tidak sampai satu minggu, kerabat saya laporan.
Katanya, ikan guppy saya sudah ludes. Ia pun minta ikan yang sudah berukuran besar kembali dibawa ke Jatinegara.
Saat itu, ada sekitar 200 ekor yang ia bawa. Karena anak-anak ikan guppy yang sudah besar juga menjadi indukan sehingga proses reproduksi dan pembesaran terus berlangsung di akuarium kecil saya.
Sebelum pergi, kerabat saya tadi memberikan uang Rp 100 ribu, “Untuk yang 150 ekor kemarin. Kan sudah laku, habis semua,” ujar dia.
Wow, tidak sampai satu minggu, saya bisa kantongi Rp 100 ribu dari jual guppy yang diternak tanpa sengaja. Kalau bisa terus berproduksi, dalam satu bulan saya bisa kantongi Rp 400 ribu.
Itu hanya dari satu akuarium. Bagaimana kalau saya punya 10 akuarium? Jiwa bisnisku langsung bergejolak. lambat tapi pasti, saya mulai perbanyak akurium.
Sekarang sudah ada dua akurium yang siap mengembangbiakkan guppy. Permintaan pun masih rutin mengalir.
Selama guppy hasil ternak memiliki warna yang mentereng, lakunya cepat. Paling lama satu minggu 100 ekor terjual. Karena menghasilkan, sekarang saya jadi keranjingan ternak guppy.
Berbagai eksperimen pun saya lakoni. yaitu mengawinkan silang ikan guppy yang berbeda warna. Misalnya yang dominan warna merah dengan yang dominan warna hijau atau biru.
Hasilnya, warna makin bervariasi. Berawal dari iseng-iseng, sekarang jadi keranjingan. [NOVALLIANDY]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.