Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
MUHAMMAD RUSMADI
RM.id Rakyat Merdeka - Di antara salah satu bawaan ‘orang kota’, konon adalah sibuk. Atau mungkin juga sok sibuk, hehe. Dan, gampang stres. Bawaan lanjutannya kemudian adalah hilangnya, sebut saja, nilai-nilai kesantunan dari desa. Sederhananya begitu. Boleh juga mungkin disebut hilangnya yang kini dikenal dengan kearifan lokal. Local wisdom.
Singkatnya mungkin, orang kota itu, maaf, lebih kurang ajar. Budaya Timur, ada pula yang menyebutnya demikian, jadi hilang. Sebut saja contoh, murah senyum. Atau saling manggut dan tegur sapa, perlahan hilang. Yang ada, kebanyakan hanya muka-muka datar.
Mirip-mirip mereka yang saraf wajahnya mati mungkin, hehe. Di desa, di manapun, saya yakin, hingga saat ini masih ada budaya ekspresi keramahan ini.
Tapi di kota, budaya ini seolah hilang. Padahal umumnya, orang-orang kota ini pun sesungguhnya adalah juga orang-orang desa yang pindah ke kota. Kecuali memang, mereka yang merupakan generasi kedua; lahir dan besar di kota.
Seorang kawan bercerita, hingga saat saling berpapasan sesama warga di satu komplek pun, tak ada saling manggut. Atau saling sapa. Bahkan boleh jadi kita sendiri, sekadar menurunkan kaca mobil pun untuk menyapa, tak jarang enggan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.