Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Redaktur
RM.id Rakyat Merdeka - Sebelum situasi jadi seperti sekarang ini, akhir pekan, Jumat atau Sabtu, jadi hari yang paling saya tunggu. Biasanya, di hari itu, saya sering pergi pesta pernikahan adat Batak.
Emang sih, nggak tiap akhir pekan saya pergi ke pesta Batak. Atau ke acara adat Batak lainnya. Kadang dalam satu bulan, malah bisa sama sekali nggak pergi. Ya karena emang nggak diundang. Tapi, itu jarang banget. Apalagi setelah saya nikah dan punya anak.
Buat sebagian orang, menghadiri pesta adat Batak kadang membosankan. Karena bisa sampai seharian. Apalagi kalau kita diundang sebagai paman dari mempelai pria. Atau kalau kita masih satu marga dan berkerabat dekat dengan yang punya hajatan. Karena baru akan mendapat giliran terakhir untuk memberikan hadiah pernikahan pada pengantin berupa ulos, atau uang.
Baca juga : Yang Goloknya Paling Panjang Jadi Jagal
Tapi, entah kenapa saya justru menikmatinya. Selain bisa makan makanan khas Batak yang memang sangat saya sukai, saya juga bisa sekalian belajar adat Batak. Hal yang selalu ditekankan almarhum Bapak saya. Apalagi, saya anak laki-laki satu-satunya dari empat bersaudara dalam keluarga.
“Nanti, kau yang akan jadi Bapak buat mereka,” kata bapak saat itu.
Ditambah lagi, di pesta Batak biasanya saya bisa ketemu dengan keluarga yang jarang kita temui sebelumnya. Kalau sudah bertemu dan kenal, ke depannya kalau saya punya keperluan, terutama yang berhubungan dengan adat Batak, bisa mencari bantuan dengan lebih mudah. Karena memang acara adat Batak, sifatnya selalu bergotong royong.
Baca juga : Jangan Menyerah Dokter
Tapi, sudah tujuh bulan sejak terakhir saya mengikuti acara adat Batak. Terakhir, saya mengikuti acara adat Batak atas meninggalnya nenek saya. Dan itu pun bukan di Jakarta. Tapi di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.
Sekarang ini, emang udah ada sih yang bikin pesta adat Batak. Meski dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Meski kalau diundang saya belum tentu berani menghadirinya. Tapi, kangen juga sih!
Paul Yoanda, Wartawan Rakyat Merdeka
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.