Dark/Light Mode

Lagu Buat Ono

Rabu, 6 Januari 2021 06:55 WIB
Ngopi - Lagu Buat Ono
Catatan :
DAUD FADILLAH

RM.id  Rakyat Merdeka - Kawan, apa kabarmu..

Aku di sini merindukanmu...

Kawan kabar baikkah...

Aku di sini mendoakanmu...

 

Kawan, apa kabarmu...

Berita Terkait : Hilangnya Suara Oposisi

Kutulis lagu ini untukmu...

Kawan, mari bernyanyi...

seperti dulu, bersama lagi...

 

Kawan, kenapa diam...

Ku ingin dengar lagi lantangmu...

Berita Terkait : Selamat Jalan Pengagum Gus Dur

Tapi jika kau harus pergi, pergilah...

Doaku menyertaimu...

Kata demi kata itu muncul berulang-ulang di otak saya belakangan ini. Apalagi, jika sedang bengong. Ya sudah, saya nyanyikan saja sekalian pakai gitar kopong dengan kunci-kunci dasar yang sederhana.

Saking seringnya saya gonjrang-gonjreng lagu ini, istri saya nanya, lagu siapa itu. Saya jawab, lagu bikinan sendiri.

“Kalau bikin lagu, yang girang dong. Supaya, yang dengarnya senang,” protes istri.

Menurutnya, lagu itu seperti bercerita tentang orang yang kehilangan teman dekat untuk selamanya. Tidak membawa kebahagiaan bagi yang mendengarnya. Protes itu tak mempan. Tetap saja saya gonjrang-gonjreng lagu yang tidak merdu ini. Terutama malam hari, jika tak bisa tidur selepas ngedit berita di rumah, alias work from home (WFH).

Berita Terkait : Tak Pede Bicara Agama

Hingga akhirnya, kabar sedih datang. Bukan dari lagu itu. Tapi, dari WhatsApp grup kantor kami. Bahwa, salah seorang Redaktur koran ini, kawan kami, Sugihono wafat. Kami biasa memanggilnya Ono.

Pertemuan terakhir saya dengan Ono, kalau tak salah, Juli tahun lalu. Dia datang ke rumah saya. Sendirian. Ngajarin saya yang gaptek, supaya lancar mengikuti rapat kantor secara virtual pakai HP pada masa pandemi Covid-19 ini. “Pencet ini Bang, supaya tampang kita nongol. Pencet itu, supaya ada suara kita,” kata Ono.

Meski sampai sekarang, kadang saya masih salah pencet, sehingga suara saya pernah tak terdengar saat wawancara secara virtual dengan seorang pejabat negara. Padahal, saya sudah bicara saat bos mempersilakan saya bertanya kepada pejabat itu.

Kalau sudah begitu, saya kadang bergumam, coba Ono datang ke sini. Ngajarin saya lagi. Tapi sekarang, palingan saya cuma bisa bernyanyi sambil meneteskan air mata. “Kawan, apa kabarmu...

Aku di sini mendoakanmu...”. [Daud Fadillah/Redaktur Eksekutif Rakyat Merdeka]