Dark/Light Mode

Tak Pede Bicara Agama

Senin, 4 Januari 2021 05:10 WIB
Ngopi - Tak Pede Bicara Agama
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Saya kurang setuju dengan pendapat yang menyebut, agama jangan diseret-seret ke urusan politik. Bahwa, agama jangan dijadikan alat politik, dalam hal ini alat legitimasi tindakan yang menyimpang, jelas tak boleh. Tapi, bukan berarti agama tak boleh masuk politik.

Saya juga kurang setuju dengan pendapat bahwa agama tidak boleh dibawa-bawa di luar urusan “agama”. Bagi saya, ini amat keliru. Coba sebutkan perkara apa yang tak ada kaitan dengan agama? Bahkan, maaf, untuk urusan buang air besar (BAB) saja, tak bisa lepas dari agama. Agama mengatur tata caranya, juga jadwalnya. Apa bisa kita menjadwalkan BAB? Besok mau pukul 7 pagi. Nanti sore, habis Ashar? Tidak bisa.

Berita Terkait : Selamat Jalan Pengagum Gus Dur

Urusan pemberian air susu ibu (ASI) juga tak lepas dari agama. Saya amat tersentak saat berdialog dengan dokter laktasi, dr Asti Praborini, yang dijuluki nenek ASI. Saat itu, saya sedang mengantar istri dan anak. Sebagai orang yang pernah nyantri, saya amat malu ketika ragu menjawab pertanyaan dr Asti mengenai alasan mengapa mau memberi ASI selama dua tahun. Saat itu, saya berusaha menjawab dengan alasan kesehatan.

Tanpa ragu, dr Asti menegaskan, ini perintah Allah dalam Al-Qur’an. Ia pun sempat menyitir ayat tentang kewajiban memberi ASI selama dua tahun. Sebenarnya, saya amat tahu ini perintah agama. Tetapi, tesis agama jangan diseret-serta ke ranah di luar agama itulah yang bikin kurang pede.

Berita Terkait : Pemulung Dadakan

Entah siapa, kekuatan apa, yang membuat kita ini dibikin tidak pede soal ini. Tentu jadi renungan saya, dan mungkin kita bersama. Siapa, kekuatan apa, yang menjauhkan agama dari berbagai lini kehidupan kita belakangan ini. Seolah, agama tempatnya hanya di pesantren, masjid, mushola, atau di kelas-kelas mata kuliah agama di Universitas Islam Negeri (UIN). Seolah, membicarakan agama itu puritan dan terbelakang. Seakan ilmu kedokteran, fisika, matematika, serta ilmu pasti lainnya bukanlah ilmu agama.

Padahal, hutan ditebang, pasti longsor dan banjir. Eksploitasi alam berlebihan, jelas berujung bencana. Bikin proyek, dikorupsi, bangunan tak sesuai konstruksi, tunggu saja roboh dan tak bertahan lama. Ini kan sunnatullah. Bagian yang paling jujur dan hukum yang amat pasti dalam agama.

Berita Terkait : Berdesakan Di Samsat

Dahulu, Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengatur strategi pemerintahan, ekonomi, pertanian, seluruh perkara dunia, hubungan sosial, dari Masjid Nabawi, Keraton utama Negara Madaninya Rasulullah. Konsep ini juga diadaptasi oleh leluhur kita, Wali Songo, yang pernah bedol negara dari Majapahit ke Demak Bintoro, dengan kraton utamanya adalah Masjid Demak. [Faqih Mubarok/Wartawan Rakyat Merdeka]

Tags :