Dark/Light Mode

Hilangnya Suara Oposisi

Kamis, 7 Januari 2021 05:06 WIB
Ngopi - Hilangnya Suara Oposisi
Catatan :
ANGGOWO ADI SEPTANINGRAT

RM.id  Rakyat Merdeka - Sudah tiga hari saya susah tidur, bengong mulu. Masih kepikiran rekan seperjuangan di kantor yang belum lama wafat. Sugihono bin Soepanto. Saya panggil ‘Mas Noy’, karena dia panggil saya ‘Mas Goy’.

Menghadap Sang Khalik, Mas Noy menyusul Mas Ade, Feril, Buya, dan Kris. Namanya teman sekantor, mereka bikin sedih. Tapi, Mas Noy yang paling nyesek.

Berita Terkait : Pesan Terakhir ONO

Sebelum marak pandemi awal Maret 2020, menahun saya sering bareng Mas Noy. Kerja, nongkrong, main kartu, jalan-jalan. Almarhum gampang diingat. Doyan banyol, keras kepala tapi agak polos, dan rajin kerja.

Dasarnya aktivis ‘98. Sampai ajal menjemput, Mas Noy terbilang masih ‘tegak lurus’. Lingkup kerjanya juga ‘wong cilik’. Akrab dengan LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Jakarta, komunitas jurnalis, dan politisi kerakyatan. Singkat kata, Mas Noy saya anggap ‘Jurnalis Oposisi’.

Berita Terkait : Lagu Buat Ono

Semangat ‘oposisi’ itu terus terlihat saat dia bicara atau via tulisannya. Tiap hari, ia mengeluhkan presiden, menteri, polisi, dan elite politik. Tidak asal cuap, dia selalu menyertai dengan data atau rekaman berita. Jadi, masuk akal.

Bukan hanya pemerintah. Kantor juga sering ia kritik. Seniorku itu selintas kaku, tapi nyatanya luwes, dan nyaris tak pernah membangkang. Bahkan, kerjanya lebih rajin dan oke dari yang ‘posisi’. Sungguh saya malu.
 Selanjutnya