Dark/Light Mode

Wafatnya Teman Orang-orang Kecil

Selasa, 12 Januari 2021 05:10 WIB
Ngopi - Wafatnya Teman Orang-orang Kecil
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Kalau diperhatikan, belakangan banyak orang baik yang tengah digandrungi wong cilik dipanggil Tuhan. Contohnya, Mbah Surip, Didi Kempot, dan Ki Seno Nugroho.

Mbah Surip meninggal dunia saat tengah berada di puncak kariernya. Didi Kempot meninggal saat lagi ngehits-ngehits-nya. Demikian juga dalang milenial Ki Seno Nugroho, meninggal pas sedang kondang-kondangnya.

Kepergian mereka menyisakan kesedihan di hati wong cilik. Sebab, ketiganya merupakan penyambung suara rintihan hati orang-orang kecil, yang kalah telak secara struktural dalam berbagai bidang dan strata kehidupan.

Berita Terkait : Dinasehatin Agar Sering Ngantor

Mbah Surip, dengan lagunya yang jenaka, mengajak orang-orang kere untuk sementara lepas dari beban lewat lagu “Tak Gendong Kemana-Mana”. Tak heran, pemakamannya ramai. Presiden pun mengucapkan bela sungkawa. Di saat yang sama, penyair super top, WS Rendra, sakit hingga menghembuskan napas terakhir, sepi sunyi tanpa riuh rendah ucapan duka. Jangan sakit hati. Itulah Indonesia.

Didi Kempot, ia mewakili para sobat ambyar yang hatinya remuk redam berulang-kali kalah dalam berbagai persaingan merengkuh cinta, cita-cita dan impian, atau lainnya. Lagu-lagunya mencabik para sobat yang patah hati, menelusup ke kontrakan-kontrakan orang kere yang lagi sengsara di perantauan. Ataupun membawa terbang mereka yang sekadar kangen kampung halaman.

Ki Seno, lewat Bagongan-nya, amat mewakili wong cilik yang ingin melepas rantai belenggu ketertindasan, melawan berbagai kezaliman. Atau sekadar menemani sobat ngebyar dan membawa mereka kepada kedamaian ataupun masa silam kejayaan para leluhur Nusantara.

Berita Terkait : Yin Dan Yang

Bagi saya, selain tiga sosok tadi, ada seorang lagi yang dipanggil Tuhan saat sedang dibutuhkan kami di Kantor Rakyat Merdeka. Dia adalah Mas Sugihono (Ono). Redaktur Eksekutif, Rakyat Merdeka, yang meninggal pada Minggu (3/1).

Bagi saya, dia manusia lengkap. Ya Mbah Surip, ya Om Didi, ya Ki Seno. Senior, saudara, sahabat, juga ponokawan bagi rekan-rekannya.

Tulisan ini, hingga sebelum dua paragraf terakhir, disusun pagi hari tepat sebelum Mas Ono wafat. Saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan Mas Ono. Al-Fatihah... [Faqih Mubarok/Wartawan Rakyat Merdeka]