Dark/Light Mode

ONO Panggil Saya Tulang

Sabtu, 9 Januari 2021 06:08 WIB
Ngopi - ONO Panggil Saya Tulang
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Selama bekerja di Rakyat Merdeka, saya pernah menjadi reporter Sugihono atau akrab dipanggil ONO. Kesan pertama saya terhadapnya, orangnya gahar . Apalagi rubrik yang diasuhnya saat itu Suara Oposisi. Rasanya pas dengan emosional ONO yang memang meledak-ledak.

Seringkali dia nilai tulisan yang saya kirim. Kata-katanya singkat. “Kurang tajem Jon. Kurang gahar,” ujar ONO. Namun gaharnya ONO, hanya saat bekerja saja. Di luar itu, ONO justru pribadi yang humoris.

Berita Terkait : Yin Dan Yang

Hatinya lembut, dan penuh kerendahan hati dan sangat bersahabat. Hampir tak pernah saya temukan dia marah. Kalau anak buahnya salah, ONO hanya mengingatkan dan memberi motivasi.

Saya makin akrab dengan ONO, ketika dia menikah. Kebetulan, Hilda-­istrinya, berasal dari Tapanuli Selatan, dekat dengan kampung halaman saya. Makanya ONO sering bercanda dengan memanggil saya ‘Tulang’ yang artinya Paman.

Berita Terkait : Pesan Terakhir ONO

Pernah suatu ketika, jelang liburan Hari Raya Lebaran, saya, ONO dan beberapa kawan masih nongkong di basement Graha Pena. ONO pusing, nggak punya duit buat mudik ke kampung mertuanya.

“Bagi duit, Tulang. Saya mau mudik ke kampung mertua. Sama Hilda dan anak-anak,” ujar ONO. Ya namanya kawan-kawan, kami patungan kecil-kecilan saja. Bukan buat ongkos, tapi buat beli jajanan atau ngopi di perjalanan saja.

Berita Terkait : Hilangnya Suara Oposisi

Kembali dari kampung mertuanya, ONO bercerita kocak sekali. Saya sebagai orang berdarah Batak saja turut geli dan tertawa dengar ceritanya. Banyak hal baru dan sangat menggembirakan, dengan keluguan dan kelucuan yang diceritakan ONO selama mudik ke kampung mertuanya.

Saya melihat, ONO begitu bahagia bercerita. Mungkin karena dia tak pernah merasakan mudik. Maklum, ONO sejak kecil besar di Pejompongan, Jakarta.
 Selanjutnya