Dark/Light Mode

Gagal Naik Puncak Gunung Slamet

Senin, 7 Juni 2021 06:08 WIB
Ngopi - Gagal Naik Puncak Gunung Slamet
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Awal April lalu saya kembali melakukan pendakian. Tapi, kali ini merupakan kegagalan mencapai puncak Gunung Slamet di Jawa Tengah.

Ini adalah kali ketiga saya mendaki di saat pandemi, setelah sebelumnya ke Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, Wonosobo, Jateng. Sayangnya, di pendakian ini saya gagal menggapai puncak gunung yang dijuluki Atap Jawa Tengah itu karena faktor cuaca yang tidak bersahabat.

Beda dengan pendakian sebelumnya, kali ini saya ditemani dua orang teman yaitu Subekti dan Haris, yang bisa dibilang usianya sudah tidak muda lagi. Tapi mereka punya banyak pengalaman soal olahraga alam bebas ini.

Melewati jalur Permadi, Guci, Tegal merupakan pilihan tepat. Jalur pendakian yang baru dibuka 2017 ini menawarkan kombinasi lengkap karena melewati jalur terjal, landai, sungai, air terjun, hutan lumut.

Berita Terkait : Masih Ada Lansia Takut Divaksin

Sabtu, 3 April 2021, pukul 8 pagi kami memulai pendakian, setelah sebelumnya melakukan registrasi dan melengkapi persyaratan pendakian. Dari Basecamp Permadi ke Pos 1 Blakbak 1695 mdpl memakan waktu 2 jam.

Jarak Pos 1 Blakbak ke Pos 2 Rimpakan memakan waktu 1,5 jam. Track tanah mulai menanjak dan melingkar punggungan, hutan lumut dan semak belukar yang sangat lebat.

Selanjutnya, Pos 2 Rimpakan ke Pos 3 Selo Petak bisa ditempuh 1,5 jam. Track lumayan landai dengan hutan yang masih sama dengan jalur sebelumnya. Perjalanan dilanjutkan ke Pos 4 Ranu Amreta dengan jarak tempuh 1 jam.

Sampai di pos 4, kami mendirikan tenda, membuka bekal, mengisi perut dan istirahat untuk memulihkan tenaga. Karena pukul 4 pagi kami harus melanjutkan pendakian ke puncak Gunung Slamet.

Berita Terkait : Khutbah Pakai Helm

Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan ke Pos 5 Watu Ireng yang bisa ditempuh 1,5 jam. Dengan track yang sempat menurun dan landai, namun berubah menjadi sangat terjal dan melewati 2 sungai (sungai ketika hujan).

Sampai di Pos 5, merupakan batas vegetasi. Dari Pos 5 ke Puncak bisa dilewati dengan waktu 1,5 jam. Dari sini fisik dan mental kita bener-benar diuji untuk melewati track batuan rapuh, keras, tajam dan pasir. Apalagi, saat kami mendaki diterjang badai kabut.

Saat itu, jarak pandang hanya berjarak sekitar 5 meter. Di tengah jalan dari Pos 5, badai semakin besar disertai gerimis. Sesekali terasa kerikil kecil beterbangan dan mengenai wajah. Tapi, tekad kami bulat, harus mencapai puncak. Badai masih bisa kami atasi.

Hampir 1,5 jam berjalan belum juga terlihat puncak, pendakian makin berat karena badai kabut yang semakin tebal. Ini kondisi terparah yang pernah saya alami mendaki gunung. Kondisi badai semakin kencang disertai hujan, kabut.

Berita Terkait : Mau Liburan Masih Takut

Parahnya, kami tidak bisa jalan berdiri. Tubuh kami akan terjatuh, karena tidak kuat menahan kencangnya badai. Terpaksa, kami harus merangkak.

Akhirnya, salah seorang guide warga lokal yang ikut dalam pendakian itu, memberi isyarat bahwa pendakian tidak bisa dilanjutkan karena badai yang semakin besar. Kalau dipaksakan akan memakan korban. [Didi Rustandi/Wartawan Rakyat Merdeka]