Dark/Light Mode

Cerita Sultan Baabullah Ternate

HNW: Bangsa Ini Berutang Banyak Kepada Ulama

Sabtu, 27 November 2021 14:04 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. (Foto: Ist)
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di hadapan anggota dan simpatisan PKS Provinsi Maluku Utara, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menyampaikan rasa hormat dan kekagumannya kepada Sultan Baabullah, Sultan ke-7 dan penguasa ke-24 Kesultanan Ternate di Maluku Utara.

Karena Baabullah dikenal sebagi seorang Sultan yang mampu mengusir penjajah Portugis dari tanah Maluku. Baabullah juga dikenal sebagai ulama yang konsisten menyebarkan agama Islam. Ia sempat menikahi anak raja agar bisa menyebarkan agama Islam di wilayah kerajaan istrinya. Ia juga mengajak koleganya sesama raja menjadi mualaf.

"Tidak selalu berhasil memang, tetapi Sultan Baabullah tidak pernah sakit hati. Ia tetap menjalin hubungan baik dengan raja-raja yang berbeda agama. Dan masih menjalin kerja sama yang saling menguntungkan bagi kedua kerajaan," cerita Hidayat secara daring saat Sosialisasi Empat Pilar MPR kerjasama MPR dengan Pengurus Wilayah PKS Provinsi Maluku Utara di Ternate, Jumat (26/11).

Baca juga : Baru Napas, Pengusaha Minta Pembatasan Jangan Kelamaan

Ikut hadir pada acara tersebut Anggota MPR Fraksi PKS Mahfudz Abdurrahman, Ketua DPP PKS Bidang Pembinaan Wilayah Indonesia Timur Muhammad Kasuba, Ketua DSW PKS Malut Ridwan Husein, Ketua DPW PKS Malut Is Suaib, serta Sekretaris DPW PKS Malut Basrin Kanaha.

Menurut Hidayat, kepribadian para ulama yang menjadi penguasa dalam berhubungan dengan sesama manusia, Istiqamah menyebarkan syiar Islam, tidak sakit hati kalau belum berhasil dan tetap berhubungan baik dengan kelompok beda agama maupun etnis.

Sultan Baabullah, Kata HNW panggilan akrab Hidayat Nur Wahid, adalah satu dari banyak ulama yang telah berjasa kepada bangsa dan negara Indonesia. Selain kepada Baabullah, bangsa Indonesia memiliki utang yang sangat besar kepada umat Islam, khususnya para ulama.

Baca juga : Ditekuk Afghanistan, Iwan Bule: Semangat Pemain Jangan Sampai Hilang

Karena itu, HNW merasa heran, ada kelompok masyarakat yang menghendaki pemisahan hubungan antara agama dan negara.

"Bangsa ini berutang banyak pada ulama. Lalu, bagaimana mungkin bila sekarang ada sekelompok orang yang menghendaki pemisahan antara urusan agama dan negara. Mereka itu pasti tidak baca sejarah, atau pengetahuannya tentang sejarah masih dangkal," ujar HNW menambahkan.

Peran tokoh agama menjadi semakin menentukan saat Indonesia mempersiapkan cita-cita kemerdekaannya. Melalui BPUPK, Panitia Sembilan dan PPKI, para ulama dan tokoh agama lain bersama kelompok nasionalis bermusyawarah, hingga akhirnya mereka bersepakat menyangkut Pembukaan UUD NRI Tahun 1945, yang di dalamnya terdapat teks Pancasila.

Baca juga : Jusuf Kalla Tegaskan Porsinya Para Ulama

"Saat mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959, Bung Karno bilang piagam Jakarta mengilhami Pancasila. Sementara Bung Hatta pernah menegaskan bahwa Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan komponene religius, yang bersifat absolut. Sedangkan sila lainnya adalah kebutuhan sehari hari yang harus disinari oleh sila pertama. Jadi jelas, tidak ada tempat dan alasan memisahkan agama dari negara," tandas HNW. [TIF]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.