Dewan Pers

Dark/Light Mode

Senayan: Bantuan Alsintan Kementan Jawab Kebutuhan Petani

Senin, 24 Januari 2022 23:41 WIB
Anggota Komisi IV DPR Yohanis Fransiskus Lema. (Foto: Istimewa)
Anggota Komisi IV DPR Yohanis Fransiskus Lema. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi IV DPR Yohanis Fransiskus Lema menyampaikan apresiasi atas kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) yang mampu menjawab kebutuhan petani di lapangan. Salah satunya, bantuan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) yang terbukti ikut berkontribusi mendongkrak kesejahteraan petani.

"Saya jujur sampaikan program (Alsintan) Kementan ini menjawab kebutuhan masyarakat," kata Lema dalam rapat kerja bersama Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan jajaran di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (24/1).

Lema mengatakan sudah cukup banyak Alsintan dari Direktorat Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan dan sektor hilirisasi pasca panen yang diberikan kepada petani. Politisi muda PDI Perjuangan ini menilai alat-alat produksi tersebut mampu mengangkat kemajuan dan kesejahteraan bagi para petani. "Ini memang sesuatu yang harus dilakukan Pak Menteri," katanya.

Dia juga memberikan apresiasi terhadap program Unit Pengolah Pupuk Organik Kementan untuk petani. Menurutnya, program ini sangat mendukung untuk kemandirian petani untuk mampu penyediaan pupuk untuk kesuburan tanah. Sehingga kelak petani tidak tergantung penuh dengan pupuk subsidi petani.

Berita Terkait : KSP: Pembukaan Travel Bubble Batam–Bintan Dan Singapura Bukan Keputusan Sekejap, Sudah Diperhitungkan

Baik bantuan alsintan, pasca panen dan pupuk, akan sangat menentukan kesejahteraan petani. "Ini kata kunci yang penting untuk pertanian berkelanjutan," tegasnya.

Hanya saja, dia menyayangkan adanya penurunan anggaran Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Program ini sendiri sangat dinanti banyak masyarakat dan terbukti mampu menyasar dua entitas, yakni kelompok petani muda dan kelompok wanita tani. "Dari pengamatan kami mendapatkan laporan baik kelompok milenial dan wanita tani senang dnegan program ini," katanya.

Dia yakin, program P2L akan menjadi solusi menjawab kebutuhan petani yang saat ini didominasi angkatan tua. "Kalau (anggaran) P2L ini dikurnagi, visi bapak untuk regenerasi petani pasti akan terganggu," tambah dia.

Hal senada dilontarkan Anggota Komisi IV DPR Julie Sutrisno. Politisi Fraksi NasDem ini menilai kinerja Kementan pada 2021 terbukti berkontribusi signifikan pada pertumbuhan perekonomian nasional. Ini bisa dilihat dari kenaikan nilai ekspor di 2021 yang mencapai 40 persen dari tahun 2020.

Berita Terkait : Lawan Persita, Macan Kemayoran Siap Clean Sheet Lagi

Kementan juga sukses membantu pemerintah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) langsung ke pelaku usaha pertanian sebesar Rp 85,6 triliun lebih.

"Kami juga apresiasi realisasi penyerapan anggaran Kementan di 2021 yang mencapai 97,28 persen. Nasdem berhara[ capaian terus ditingkatkan untuk tahun 2022 sehingga terus berkontribusi pada kebangkitan dan pertumbuhan perekonomian nasional," tegasnya.

Politisi daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) ini mendorong agar pemerintah terus memberikan perhatian serius sebab kemampuannya menyerap tenaga kerja dan berkontribusi dalam perbaikan perekonomian nasional.

Pentingnya peran pertanian dalam menjamin ketersediaan pangan yang berkualitas dan terjangkau melalui dukungan anggaran. "Sehingga arah pembangunan pertanian dapat berjalan seperti yang diharapkan," tambah dia.

Berita Terkait : Tingkatkan Kepedulian Pada Keamanan Siber

Anggota Komisi IV DPR Suhardi Duka juga memberikan apresiasi atas realisasi realisasi anggaran Kementan di 2021 yangmencapai 97,28 persen dengan hasil audit Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selama lima tahun berturut-turut.

Sektor pertanian juga mampu mendongkrak pertumbuhan perekonomian negara dengan nilai ekspor yang tinggi dari sektor perkebunan. "Apresiasi saya juga terhadap tiga tahun berturut-turut Indonesia tidak impor beras dan jagung," tandasnya.

Ini pula yang menurutnya jadi paramater kinerja seorang Mentan. Yakni dari kemampuannya dalam memenuhi produksi pangan dalam negeri.

"Sesukses apapun kalau impor pangan, impor beras, saya kira indikator indikatpr utamanya. Tetapi Pak Mentan justru mampu selama 3 tahun tidak impor beras. Ini saya apresiasi," jelasnya. [KAL]