Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Lestari: Perlu Antisipasi Dan Kebijakan Cegah Ancaman Demensia
Rabu, 13 September 2023 21:39 WIB
Sebelumnya
Ketua Umum Ikatan Dokter Saraf Indonesia, Dodik Tugasworo mengatakan, seiring naiknya jumlah lansia maka meningkat pula jumlah penyakit neurodegeneratif seperti Stroke, Parkinson, dan termasuk Demensia. Menurutnya, Demensia adalah fenomena gunung es dengan sebagian besar belum atau tidak terdiagnosis.
Dodik mengungkapkan, faktor risiko Demensia secara umum bersifat multifaktorial. Beberapa hal yang mendasari faktor risiko di antaranya, usia, jenis kelamin, cidera, penyakit jantung, pola hidup tidak sehat, diabetes, infeksi, faktor lingkungan, dan termasuk depresi.
Dodik mengungkapkan sejumlah tantangan dalam menghadapi kasus Demensia. Dari sisi petugas medis, tidak semua dokter dapat melakukan deteksi dini, dapat terjadi miss diagnosis sehingga pasien tidak mendapat penanganan yang sesuai, rujukan pasien Demensia yang belum tepat, dan pemeriksaan neuropsikologi membutuhkan waktu lama.
Baca juga : Teten: Harus Ada Perlindungan Produk UMKM Dalam Kebijakan Transformasi Digital
Sementara tantangan dari sisi penderita, ungkap Dodik, pasien memiliki penyakit komorbid, biaya perawatan tinggi, deteksi dini yang kurang, dan stigma yang mewajarkan kepikunan.
Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi menegaskan negara wajib menjamin akses layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat.
"Diperlukan langkah antisipatif dan kebijakan yang komprehensif untuk mengatasi masalah Demensia dan Alzheimer," ujar Nurhadi.
Baca juga : Sestama: Pegawai BNPT Harus Ikut Wujudkan Penanggulangan Terorisme yang Dinamis
Dia mendorong pemerintah untuk memastikan peningkatan pemahaman masyarakat dalam upaya pencegahan, deteksi dini, pengobatan, dan perlindungan para lansia dari Demensia dan Alzheimer.
"Sebab pada titik tertentu, populasi Indonesia didominasi masyarakat yang lansia, Demensia dan Alzheimer berpotensi bisa mengancam produktivitas dan keberlangsungan bernegara," imbuhnya.
Pendiri Alzheimer Indonesia, DY Suharya, sependapat dengan Rerie tentang pikun bukan hal normal bagi lansia, melainkan gejala Demensia. Ia mengajak seluruh pihak untuk menciptakan lingkungan yang ramah akan lansia dan Demensia.
Baca juga : Jelang Pemilu, Imigrasi Jakpus Tingkatkan Pengawasan Orang Asing
Suharya juga meminta agar ada penanganan khusus pada Demensia dan lansia terutama saat mengakses layanan kesehatan.
"Kerap kali, mereka harus menunggu lama untuk berkonsultasi atau untuk diberikan penanganan. Padahal, proses yang lambat akan semakin menambah progresivitas Demensia yang dialami," tegasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya