Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

DPR: Tidak Benar Informasi BIN Bentuk Pasukan Khusus

Sabtu, 12 September 2020 14:55 WIB
Anggota DPR Evita Nursanty (Foto: Istimewa)
Anggota DPR Evita Nursanty (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota DPR Evita Nursanty meyakini bahwa informasi yang menyebut Badan Intelijen Negara (BIN) membentuk pasukan khusus adalah informasi yang tidak benar. Apa yang ditampilkan pada 10 September 2020 yang videonya dibagikan Ketua MPR Bambang Soesatyo adalah demo keterampilan dari para agen/siswa Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), bukan pasukan khusus.

“Enggak lah. Saya yakin 100 persen, tidak ada pasukan khusus. Itu salah pengertian saja. Mereka (yang tampil mendemokan keahlian itu) adalah agen atau siswa STIN yang sedang mendemokan keterampilan mereka sesuai tugas mereka,” kata Evita, di Jakarta, Sabtu (12/9).

Menurut anggota VI DPR yang sebelumnya 10 tahun duduk sebagai anggota Komisi I DPR yang bermitra dengan BIN ini, siswa STIN memang dilatih dengan sangat terampil. Misalnya, ahli pencak silat, ahli karate, ahli siber, dan soft skill lainnya. Keahlian seperti ini diperlukan kelak ketika mereka terjun di lapangan.

Baca juga : PKS Setuju Bio Farma Dapat PMN Rp 2 Triliun Buat Vaksin Covid-19

“Keahlian itulah yang dipertunjukkan sebagai bagian dari ceremony, bukan membuat pasukan khusus. Kita memang membutuhkan siswa STIN yang terampil, karena mereka sumber utama SDM BIN sesuai Undang-Undang Intelijen. Coba lihat juga di film-film itu, bagaimana anggota CIA, FBI, atau badan intelijen lain punya keterampilan khusus ketika mereka bertugas misalnya dalam penyusupan ke komunitas apa pun,” sambung Evita.

Hal itu sesuai UU Nomor 17/2011 tentang Intelijen Negara yang menyebut STIN sebagai sumber utama SDM untuk BIN, sehingga STIN terus mengembangkan pendidikan untuk mencapai tujuan lulusan yang berdaya saing internasional dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sementara, BIN sendiri terus mendorong pengembangan profesi atau kemampuan profesional personel intelijen melalui pendidikan, pelatihan, dan penugasan.

“Perlunya rekrutmen dan pengembangan profesi dan kemampuan profesional personel intelijen yang tangguh dan yang memiliki keahlian khusus. Ini sejalan dengan perubahan, perkembangan situasi, dan kondisi lingkungan strategis, yang memang perlu melakukan deteksi dini dan peringatan dini terhadap berbagai bentuk dan sifat ancaman, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang bersifat kompleks serta memiliki spektrum yang sangat luas,” ucap Evita.

Baca juga : Komisi IV Sentil Pemborosan Anggaran Badan Karantina

Dikatakan, setiap warga STIN memiliki nilai dasar bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, nasionalisme, berintegritas, tangguh, profesional, setia, loyal, solid, semangat dan kerahasiaan. Mereka tangguh artinya memiliki sikap pantang menyerah, tabah dan kuat pendiriannya, dan profesional artinya memiliki pengetahuan dan keterampilan. Sehingga mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya seusai dengan profesi yang diembannya.

Karena itu, Evita malah berharap, sistem rekrutmen dan sistem pelatihan keterampilan khusus ini bisa diterapkan di kampus lain yang berkaitan dengan intelijen pertahanan dan keamanan negara. “Justru kita senang BIN punya siswa dilatih keterampilan khusus, soft skill. Sistem ini bagus jika diterapkan di institusi pendidikan lain, seperti Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) yang sudah bertransformasi menjadi Politeknik Siber dan Sandi Negara atau Universitas Pertahanan. Setiap lulusan memang harus memiliki keahlian khusus.”

Evita juga menyambut sangat baik pengembangan program studi baru di STIN seperti Intelijen Medik, Intelijen Cyber, S2 Intelijen Ekonomi maupun S3 Ilmu Intelijen Strategis. Itu semua sangat bagus sebagai antisipasi terhadap ancaman pada masa depan, dan bentuk pembaruan dan modernisasi untuk mewujudkan STIM sebagai kampus bertaraf internasional, memberikan kemampuan menghadapi tantangan dan ancaman NKRI.

Baca juga : Revisi UU Otsus Papua, Mendagri Diminta Buka Dialog, Termasuk Dengan Kelompok Ekstrem

Bahkan bukan hal yang mustahil alumni sekolah tinggi atau universitas yang berkaitan dengan intelijen pertahanan dan keamanan ini bisa mengabdi di berbagai institusi negara lainnya. Karena mereka sudah dibekali dengan nasionalisme, cinta Tanah Air, loyal, kepribadian tangguh, bermoral tinggi, dan tentunya karena siswa pun memiliki keterampilan khusus tadi. [USU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.