Dark/Light Mode

Holding Ultra Mikro Untuk Berdayakan UMKM, Literasi Dan Inklusi Keuangan

Senin, 5 Juli 2021 23:31 WIB
Gde Sumarjaya Linggih/Ist
Gde Sumarjaya Linggih/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Pembentukan Holding Ultra Mikro (UMi) dinilai akan semakin meningkatkan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), serta memacu literasi dan inklusi keuangan. Ternasuk pembiayaan formal di kalangan pelaku usaha di segmen tersebut.

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Komisi VI DPR Gde Sumarjaya Linggih. Anggota dewan asal Bali itu mengatakan, langkah integrasi ekosistem UMi melalui holding tiga BUMN yang fundamental usahanya fokus terhadap pemberdayaan UMKM, akan mempermudah akses permodalan, pembayaran dan penguatan digitalisasi UMKM yang masih rendah.

Politikus Golkar itu menjelaskan, Holding BUMN UMi merupakan kebijakan tepat dari pemerintah. Sebab, persoalan klasik para pelaku usaha kecil dan mikro adalah masalah literasi dan inklusi keuangan dan pembiayaan.

Jika literasi lemah, maka inklusi atau akses serta pemanfaatan layanan keuangan sulit dijangkau. Implikasinya akan mengerdilkan kapasitas dan daya saing usaha pelaku UMKM dan UMi.

“Artinya ini (Holding BUMN UMi) satu langkah visioner dan strategis," ujar Gde, yang akrab disapa Demer. 

Berita Terkait : Holding Company Koperasi untuk Membangun UMKM Indonesia

Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Desember 2020, indeks literasi keuangan mencapai 38,03 persen, sedangkan inklusi keuangan 76,19 persen. Angka tersebut merupakan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) ketiga yang dilakukan regulator tersebut pada 2019.

Persentase itu meningkat dari hasil survei OJK pada 2016 dengan indeks literasi keuangan 29,7 persen, sedangkan inklusi keuangan 67,8 persen. Ada pun target OJK sesuai arahan Presiden Jokowi, indeks inklusi keuangan mencapai di atas 90 persen pada 2023.

Demer berharap, dengan terintegrasinya ekosistem usaha ultra mikro melalui holding BUMN UMi, hambatan-hambatan terhadap literasi dan inklusi keuangan serta pembiayaan bisa diatasi.

Dengan demikian, pelaku usaha kecil akan semakin lebar mengembangkan bisnis ke depan. 

“Holding ini diharapkan dapat membina pelaku UMKM menerapkan pola-pola usaha yang lebih modern," ucapnya. 

Berita Terkait : Arsjad Rasjid: Holding Ultra Mikro Bukan Akuisisi, Ini Amanat Konstitusi

Dengan terpacunya literasi dan inklusi keuangan serta pembiayaan formal, Demer memproyeksikan ke depan masyarakat akan terhindar dari penipuan yang berkedok layanan jasa keuangan. Seperti investasi bodong, atau praktik rentenir bermodus pinjaman uang secara daring. 

“Pemahaman tersebut akan memberikan dampak besar bagi kesehatan industri keuangan yang seringkali terjadi penipuan melalui pinjaman online atau investasi bodong," imbuhnya. 

Demer mengungkapkan, langkah pemerintah melalui sinergi ketiga BUMN akan menghasilkan efisiensi dan efektivitas peningkatan kapasitas UMKM. Hal itu mewujudkan kemudahan akses pembiayaan dengan biaya murah bagi kelompok usaha kecil.

Terpisah, Deputi Perkoperasian Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi menegaskan, kehadiran holding ultra mikro tidak perlu dikhawatirkan oleh pegiat Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan menganggap sebagai persaingan. 

Pendekatan layanan yang diberikan oleh KSP dan holding sebagai bank sangat berbeda. KSP sebagai lembaga koperasi berbasis keanggotaan, hanya memberikan layanan kepada anggota yang di dalamnya ada semangat memiliki yang tinggi dan gotong royong. 

Berita Terkait : Tingkatkan Literasi dengan Kolaborasi

“Karena itu, kekhawatiran persaingan bunga pinjaman seharusnya tidak perlu ada, karena hal tersebut merupakan kesepakatan bersama dalam rapat anggota,” ujarnya.

Selama ini, KSP sebagai lembaga memiliki prinsip-prinsip perkoperasian yang terbangun dari sistem pengelolaan yang bersifat demokratis dan terbuka. Di dalamnya ada pula pembagian sisa hasil usaha (SHU) yang adil terhadap semua anggota. 

“Anggota memperoleh kemanfaatan lain sebagai bagian dari koperasi, tidak sekadar hanya mendapatkan layanan pinjaman,” kata Zabadi.  

Oleh karena itu, Zabadi meminta, ini saatnya KSP semakin meningkatkan layanan dan melihat potensi-potensi baru sebagai market yang akan menjadi pasar KSP. [WHY]