Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tifatul: Orang Minang Jalankan Pancasila Dalam Keseharian

Senin, 25 Oktober 2021 14:58 WIB
Ketua Fraksi PKS MPR Tifatul Sembiring
Ketua Fraksi PKS MPR Tifatul Sembiring

RM.id  Rakyat Merdeka - etua Fraksi PKS MPR Tifatul Sembiring mengutip kembali  berita-berita seputar polemik pernyataan Puan Maharani, saat mengumumkan cagub dan cawagub PDI Perjuangan untuk Sumatera Barat, pada 2 September 2020 lalu. Saat itu Puan melontarkan pandangan bahwa semoga Sumatera Barat menjadi Propinsi yang memang mendukung Pancasila.

Kalimat bernada harapan ini menurut Tifatul Sembiring justru memicu polemik. Ada yang protes, mengkritik, memberi pembelaan, bahkan  mengadukan ke polisi, karena dianggap menghina. Bahkan karena polemik itu, cagub yang direkomendasikan PDI Perjuangan sampai mengembalikan surat dukungan tersebut.

Tifatul melihat, kesalahpahaman ini lebih kepada persolan rasa bahasa, antar komunikator dan komunikan. Orang Minang, sudah terbiasa dengan petatah petitih, isyarat, kalimat sindiran, dan satire. Bahkan, ungkapan-ungkapan tersebut sudah jadi makanan sehari-hari bagi orang Minang.

Akibatnya, ungkapan Puan, yang belum dibungkus kata-kata puitis tadi, ditangkap masyarakat Minang sebagai sindiran tajam, bahwa orang Sumbar tidak Pancasilais. "Husnuzhon saya, sebenarnya maksud Ibu Puan bukan itu. Mungkin berharap kualitas pemahaman Pancasila orang Minang semakin ditingkatkan," kata Tifatul.

Berita Terkait : Airlangga: Golkar Memang Bukan Partai Agama, Tapi Sangat Memperhatikan Agama

Pernyataan itu disampaikan Tifatul Sembiring saat menjadi pembicara kunci pada seminar nasional dengan tema Bagaimana Orang Minang Mempraktekkan Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari. Seminar nasional itu berlangsung di  Wisma Bung Hatta, Bukittinggi, Sabtu (23/10).

Seminar tersebut menghadirkan dua narasumber Prof. Yudi Latif (Kepala BPIP 2018) dan Yus Datuk Parpatih (Budayawan Minang). Ikut hadir pada acara tersebut, Anggota MPR Johan Rosihan, Chairul Anwar, Hermanto, serta Gubernur Sumatera Barat Buya Mahyeldi.

Tifatul berharap peserta seminar tidak terus membahas ketersinggungan perasaan. Lebih baik membicarakan berbagai persoalan yang lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara.

"Topik kita hari ini lebih ilmiah, tidak sekedar debat kusir. Mengungkap Pancasila sebagai konsensus nasional, yang telah terbukti bisa mempertahankan keutuhan NKRI yang sangat majemuk ini," ujar Tifatul.

Berita Terkait : Tantangan Pesantren Di Masa Depan

Sementara itu, Yudi Latief dalam paparannya antara lain mengatakan, akar Pancasila itu ada tiga: yaitu, keagaamaan,  kebangsaan atau nasionalisme dan Sosial Ekonomi. "Nah, ketiga akar ini sudah terwakili oleh tokoh-tokoh Minangkabu di sepanjang sejarah bangsa Indonesia ini," ujar Yudi.

Orang Minang, kata Yudi, sudah menjalankan akar Pancasila. Tokoh Minang yang mewakili sisi keagamaan, adalah Agoes Salim, Buya Hamka, hingga Sutan Mansyur. Yang merepresentasikan nasionalisme kebangsaan seperti Syafruddin Prawiranegara. Sementara dari Sisi sosial ekonomi terdapat nama Bung Hatta, serta Tan Malaka.

Dari fakta sejarah, terjawab bahwa orang Minangkabau, Sumatera Barat, paling lengkap menampilkan tokoh-tokoh  nasional yang mereprentasikan akar- akar Pancasila. Bahkan ada tokoh-tokoh  Minang yang punya andil melahirkan butir-butir Pancasila. Seperti, kata musyawarah adalah usulan Agoes Salim.

Meskipun, teks Pancasila yang dimuat dalam Pembukaan UUD NRI 1945 adalah usulan tertulis dari Prof. Muhammad Yamin, anak dari ayahnya yang berasal dari Sawahlunto dan ibu dari Padang panjang, Sumbar.

Berita Terkait : Cek Di Sini, Aturan Terbaru Pelaku Perjalanan Dalam Negeri

Sejarah juga mencatat, Muhammad Yamin adalah salah seorang deklarator Sumpah pemuda 1928. "Kita ini surplus klaim, tapi miskin tindakan. Ngaku Pancasila, akan tetapi tindakannya justru melawan nilai-nilai Pancasila itu sendiri," sindir Yudi Latif. [TIF]