Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Wanti-wanti Ketua DPR

Generasi Muda dan Polri Harus Bisa Segera Merajut Kebangsaan Pasca-Pilpres

Selasa, 28 Mei 2019 16:52 WIB
Ketua DPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. Pribadi)
Ketua DPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Generasi muda jangan hanya siap bertanding, namun juga harus siap bersanding manakala kalah dalam permainan di semua tingkatan. Mulai dari Pilkades, Pilkada, hingga Pilpres. Hal ini penting dalam menjaga keutuhan bangsa. 

Demikian disampaikan Ketua DPR Bambang Soesatyo di sela acara Silahturahmi dan Buka Puasa Bersama dengan para tokoh Kelompok Cipayung, di Jakarta, Senin (27/5). Acara ini digelar Kementerian Perguruan Tinggi dan Ristek. Tema yang diangkat adalah “Merajut Kebangsaan Pasca Pilpres”. 

Acara dihadiri banyak tokoh Kelompok Cipayung. Antara lain Menristekdikti Mohamad Nasir, Akbar Tanjung, Theo Sambuaga, para Ketua Umum dan Sekjen Organisasi Ekstra Kampus yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Plus (PMII, PMKRI, GMKI, GMNI, HMI, IMM, Hikmabudhi, KMHDI), dan Alumni.

Baca juga : Aparat Harus Humanis, Massa Aksi Jangan Merusak

Bamsoet, sapaan Bambang,  juga mengingatkan ke Polri untuk lebih bijaksana dalam menangani aksi unjuk rasa. Agar Polri tidak selalu menjadi target serangan atau pelampiasan amarah sejumlah orang. 

“Dari kecenderungan itu, saya mendorong pimpinan Polri mencermati dan mendalami kasus-kasus serangan terhadap anggota dan sejumlah objek milik Polri. Respons terukur Polri terhadap kecenderungan itu perlu untuk menjaga moral prajurit dan menjaga optimisme masyarakat,” ujar Bamsoet.

Polri, tambah Bamsoet, tidak boleh terihat lemah di mata dan benak masyarakat. Sebaliknya, Polri juga harus responsif terhadap segala bentuk serangan yang bertujuan memperlemah moral prajurit dan merusak citra institusi Polri. Kedua upaya itu terlihat cukup intensif akhir-akhir ini.

Baca juga : Kurangi Impor, Pengusaha Harus Bisa Tingkatkan Produksi

Setelah serangan dan pembakaran mobil di sekitar Asrama Brimob Petamburan, Jakarta Barat dan pembakaran pos polisi di jalan Wahid Hasjim, Jakarta Pusat pada 22 Mei lalu, serangan itu berlanjut pada dua kota di Jawa Tengah, jelang akhir pekan lalu. Mako Brimob Kompi 3 Batalyon B Watumas, Purwokerto, Banyumas, diberondong tembakan oleh orang tak dikenal pada Sabtu (25/5) dini hari. Selain melukai seorang anggota Brimob, rentetan tembakan itu membuat genting pos jaga rontok. 

Sehari sebelumnya atau Jumat (24/5) tengah malam, giliran Pos Polisi Pakis, Delanggu, Klaten, dibakar orang tak dikenal. Peristiwa pembakaran ini dibenarkan warga sekitar pos polisi di Jalan Solo-Yogyakarta, Kecamatan Delanggu.

Serangan itu sudah barang tentu dilakukan oleh kelompok-kelompok yang marah dan dendam kepada Polri. Selain sel-sel teroris, tidak tertutup kemugkinan adanya kelompok lain yang menunggangi kemarahan para teoris. Kalau aksi damai di Jakarta bisa ditunggangi kelompok perusuh, serangan terhadap prajurit dan objek Polri bisa juga ditunggangi kelompok lain.

Baca juga : Pemerintahan Kedua Jokowi Harus Jamin Kepastian Dunia Usaha

"Melengkapi rangkaian serangan itu, dibangun narasi tentang kebrutalan Polri ketika mengendalikan unjuk rasa pada 21-22 Mei 2019 di depan gedung Bawaslu, di Jakarta. Disebarkan hoaks tentang seorang bocah tewas akibat dipukuli oknum Brimob di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ada orasi di depan massa yang menuduh Polisi PKI karena menembaki umat Islam secara ugal-ugalan," tutur Bamsoet.

Narasi-narasi atau hoaks itu, lanjut Bamsoet, praktis bertentangan dengan persepsi masyarakat yang justru memberi apresiasi atas kerja keras dan kesabaran Polri menjaga keamanan dan ketertiban umum akhir-akhir ini. Dari rangkaian peristiwa itulah Ketua DPR mendorong pimpinan Polri mencermati dan mendalami kecenderungan tersebut. 

"Cepat atau lambat, Polri harus memberi respons terukur. Polri mampu mengeliminasi ancaman teroris. Maka, Polri pun diharapkan bisa segera mengungkap kekuatan atau kelompok yang merancang serangan terhadap prajurit dan objek milik Polri," tandasnya. [USU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.