Dewan Pers

Dark/Light Mode

Mau Copas Jalan Politik Jokowi

Berat, Kalau Ganjar Pranowo Nekat Nyapres Nih

Sabtu, 14 Mei 2022 07:35 WIB
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. (Foto: Istimewa)
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Peneliti ahli utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Siti Zuhro menganalisa, saat ini bukan waktu yang tepat bagi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk maju Pilpres 2024. Sekalipun, meniru jalan Presiden Jokowi di Pemilu 2014.

“Memang, setiap momen itu tidak selalu bisa dicopas alias copy paste, lain eranya lain momennya kan begitu. Jadi, istilahnya tidak bisa hal yang sama diulang lagi untuk 10 tahun kemudian. Sudah berubah kondisinya,” ujar Siti kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Pernyataan ini merupakan analisa terhadap fenomena kerap munculnya nama Ganjar di bursa Capres 2024. Namanya moncer di sejumlah survei. Demikian juga dengan kemunculan para relawannya mirip cerita ketika Jokowi akhirnya diputuskan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri menjadi Capres 2014.

Berita Terkait : Jabar Bergetar, Relawan Terus Dorong Erick Nyapres

Pengajar di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) ini menilai, pengalaman empiris tidak bisa menjadi patokan utama seseorang bisa moncer di pesta demokrasi. Namun, konteks kekinian yang akan datang juga harus di perhitungkan.

“Iya (waktunya tidak tepat untuk Ganjar). Menurut saya, Ganjar harus selesai dulu di internalnya. Kalau dia mencoba-coba cara Pak Jokowi, diulang, di 2024, kayanya berat,” pungkasnya.

Menurutnya, selama masih menjadi kader PDIP, Ganjar harus mendapatkan pengesahan dari Megawati. Bagaimanapun juga, partai ini tegak lurus dengan arahan internal dan intruksi dari putri Bung Karno itu. Terlebih, soal tiket Pilpres.

Berita Terkait : Rekayasa Lalin Arus Balik Dinilai Berhasil, Kinerja Polri Diapresiasi

“Memang, yang fair itu dilakukan konvensi, tetapi itu kan bukan menjadi budaya politiknya PDIP,” kelakarnya.

Karena itu, Ganjar sepenuhnya memerlukan restu dari PDIP. Secara konstitusi juga telah dia­tur dengan sangat jelas, bahwa untuk mengusung calon itu bukan dari komunitas atau relawan. Melainkan partai politik dan gabungan partai politik.

Menilik sejarah, di Pemilu 2014, sebenarnya Megawati masih ingin mencalonkan diri menjadi Capres. Namun, pada akhirnya peluang itu diberikan kepada Jokowi, dengan melihat rasionalitas dari relawan dan internal partai.

Berita Terkait : Di TMII, 1.500 Peserta Mudik Gratis Deklarasi Dukung Ganjar Pranowo Di Pilpres 2024

Pun, di Pilpres 2019. Tidak ada pilihan bagi PDIP untuk kembali mendukung Jokowi. Tetapi, Pemilu 2024 masalahnya berbeda. Dalam analisa Siti, Megawati sudah menyiapkan putrinya, Puan Maharani untuk tidak hanya memegang posisi di partai, legislatif, dan nantinya eksekutif atau Presiden. [BSH]