Dewan Pers

Dark/Light Mode

Di Pilpres 2024, Kelompok Moderat Cenderung Pilih KIB

Rabu, 17 Agustus 2022 14:42 WIB
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (tengah), Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (kanan) dan Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa, tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB)/Ist
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (tengah), Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (kanan) dan Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa, tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB)/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA memetakan dukungan kepada poros koalisi partai politik dalam Pilpres 2024. Ada tiga jenis pemilih, yakni pemilih yang puas dengan kinerja Presiden Jokowi, pemilih yang moderat, dan pemilih yang kurang puas terhadap kinerja Jokowi.

Poros PDIP menguasai segmen pemilih puas terhadap pemerintahan Jokowi. Poros Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) menguasai segmen pemilih moderat. Sedangkan Gerindra-PKB menguasai segmen pemilih yang kurang puas.

Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Center for Strategic International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengungkapkan, latar kepuasan terhadap pemerintahan saat ini tidak akan banyak berperan dalam Pilpres 2024. Pasalnya, Pilpres 2024 tidak diikuti petahana.

“Saya kira faktor kepuasan dan ketidakpuasan mungkin ada pengaruhnya pada perolehan partai tertentu, tapi menurut saya faktor determinan suara partai bukan soal puas atau tidak pada pemerintahan," ujar Arya.

Menurutnya, ada beberapa faktor penentu dalam perolehan suara partai pada Pemilu 2024. 

Misalnya, kandidat yang diusung dalam Pemilu Legislatif (Pileg 2024). Kekuatan kandidat masih menjadi acuan utama publik untuk menjatuhkan pilihan ke partai tertentu.

"Faktor utama naik-turun suara partai itu, yaitu siapa kandidat yang akan mereka calonkan di DPR RI, DPRD. Tetap faktor kandidat yang diusung," ujarnya.

Berita Terkait : Pilpres 2024, Indonesia Perlu Restorasi Semangat Kepemimpinan

Selanjutnya, ada faktor narasi program yang ditawarkan oleh partai politik. Terakhir, sosok yang didukung dalam Pilpres 2024. Lalu, faktor itu masih berada pada kategori penentu dalam memotret perolehan suara partai politik.

"Faktor determinannya itu. Faktor kepuasan mungkin iya, tapi ketika incumbent tidak ada, maka faktor kepuasan publik, menurut saya, tidak terlalu besar pengaruhnya," tegasnya.

Menurut Arya, pembentukan koalisi di antara partai yang hendak berlaga di Pemilu 2024 sudah mengerucut menjadi beberapa poros.

Namun, hal itu masih menyisakan kerentanan. Peta koalisi masih bisa berubah hingga pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) resmi terdaftar di KPU.

"Kerentanan itu untuk terbelah, bubar, atau gagal. Mengapa ada kerentanan? Karena pendaftaran capres masih September tahun depan. Sehingga kemungkinan untuk partai mengalihkan dukungan masih terbuka," tambah Arya.

Selain itu, kerentanan koalisi juga dipengaruhi oleh tren peluang kandidat calon presiden. Selanjutnya, juga dipengaruhi oleh negosiasi para king maker politik.

"Untuk koalisi memang sudah mengerucut. Pilihannya terbatas, tapi di internal dan eksternal ada kerentanan. Perubahan itu bisa terjadi kalau deadlock saat menentukan siapa capres, siapa cawapres," pungkasnya.

Berita Terkait : Dinamika Pilpres 2024, Pengamat: KIB Masih Wait And See

Nyaman Di Tengah

Peneliti LSI Ardian Sopa mengungkapkan, pemilih moderat merasa nyaman di berada di tengah. 

“Ketika masyarakat di 2024 banyak merasa nyaman di tengah, kemungkinan yang mendapat keuntungan politik adalah KIB,” kata dia, Selasa (16/8).

Berdasarkan survei LSI, lanjut Ardian, ada tiga poros yang telah terbentuk yaitu PDIP, KIB dan Gerindra-PKB. 

Poros PDIP tentu melekat dengan legasi Presiden Jokowi, sementara Gerindra-PKB masih terbawa warisan Pemilu 2019, massanya tidak menyukai Jokowi. Sedangkan pemilih yang moderat, nantinya akan merapat ke KIB. 

“Ternyata yang menarik, yang moderat lebih banyak ke KIB karena Golkar tidak identik kuat dengan Pak Jokowi karena ada PDIP. Dan tidak identik kuat sebagai oposisi karena masuk di pemerintahan,“ jelas Ardian.

Pola ini, menurut dia, bisa terus berlanjut pada peta pemilih di Pemilu 2024. Tiga poros yang disebutkan tadi telah memenuhi syarat presidential threshold. 

Berita Terkait : Kecewa Hasil Muscab, Relawan Demokrat Bandung Pilih Hengkang

Namun, masih ada tiga partai yang belum menentukan koalisinya, yaitu Partai Demokrat, Partai Keadilan Sosial (PKS) dan Partai Nasional Demokrat (NasDem). Langkah mereka begitu krusial untuk mengubah peta poros pada Pemilu 2024. 

Dalam survei LSI juga disebutkan, jika KIB berhasil menggaet satu parpol lagi, sudah pasti hanya tiga pasang calon yang berlaga di Pemilu 2024. 

“Sehingga jika KIB berhasil menambah satu (anggota), jadinya akan tidak cukup lagi. Ini perburuan di akhir, jangan sampai ada yang ketinggalan kereta,“ jelas Ardian. 

Pada survei yang sama, disebutkan bahwa sejumlah elite partai seperti Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Puan Maharani, masih perlu untuk mengejar elektabilitas. Saat ini LSI hanya meletakkan figur Airlangga dan Puan pada posisi calon wakil presiden. 

Sehingga, jika mereka masih mampu menggerakkan ranting, akan bisa mengoptimalkan potensinya. 

“Mungkin sekarang masih menjadi cawapres karena angka (elektabilitas) masih kecil. Namun ketika, katakan Juni 2023 mereka sudah menjadi calon kuat, tidak menutup kemungkinan jadi capres potensial,” jelas Ardian.■