Dark/Light Mode

Empat Kali Konsolidasi

KIB Masih Alot Tentuin Capres

Minggu, 6 November 2022 08:00 WIB
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis (TPS) Agung Baskoro. (Foto: Istimewa)
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis (TPS) Agung Baskoro. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah Jakarta, Surabaya, dan Semarang, untuk keempat kalinya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dijadwalkan menggelar konsolidasi lagi. Kali ini, lokasinya di Makassar, Sulawesi Selatan. Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto bersama Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan dan Plt Ketua Umum PPP, Mardiono akan bertemu di Hotel Dalton, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, siang ini.

Bolak-balik bikin konsolidasi, KIB belum juga menentukan capres-cawapres. Diskusinya berkutat pada platform dan visi misi koalisi. Apa tanggapan pengamat dengan manuver KIB yang belum kunjung ada kepu­tusan strategis ini?

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis (TPS) Agung Baskoro menyakini, hasil perte­muan KIB hari ini bisa ditebak. “Paling hanya menyamakan gagasan dan platform. Belum menentukan nama pasangan capres-cawapres. KIB terdiri dari Golkar, PAN, dan PPP situasinya agak pelik,” kata Agung kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Baca juga : Elektabilitas Turun, Golkar Masih Canggung Deklarasi Capres 2024

Menurut Agung, KIB masih menunggu siapa yang akan dicalonkan PDI Perjuangan. Padahal, KIB yang menempatkan Golkar sebagai koordinator poros, sudah punya Airlangga sebagai capres partai Beringin.

Mestinya, lanjut Agung, KIB berani mengeluarkan jagoannya sendiri. Golkar, dengan Airlangga, juga akan mem­peroleh coattail effect yang diharap bisa turut mendongkrak suara. “Memang persoalan beri­kutnya adalah penentuan nama cawapres, khususnya di PAN dan PPP,” tambahnya.

Persoalan pelik berikutnya, dalam konteks politis, suka atau tidak relasi KIB dengan kekua­saan cukup erat. Menimbang para ketua umumnya, yakni Airlangga, Zulkifli Hasan, dan Mardiono adalah pembantu presiden. Sehingga, pertimbangan atau arahan Presiden Jokowi menjadi penting. Padahal, di saat yang sama Jokowi adalah kader PDI Perjuangan yang pu­nya kepentingan menghadirkan penerus dari partai yang sama dengannya.

Baca juga : Pelatih Bali United Tak Masalah Liga 1 Digelar Tanpa Penonton

“Sehingga tak heran ada usu­lan Ganjar mengemuka di partai koalisi ini. Tapi, sampai kapan KIB tersandera, padahal PDI Perjuangan sudah lebih pasti bi­sa mengusung capres-cawapres sendiri?” tanya Agung.

Sedangkan, Direktur Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti menilai, pemilihan Kota Makassar, Sulsel menjadi bukti kepiawaian Airlangga. Sebab, Airlangga ingin mem­buktikan dia mampu menguasai wilayah mantan Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla. Selain itu, untuk melawan ramainya dukungan atas Anies Baswedan di Sulsel.

Sementara soal nama Capres-Cawapres koalisi ini, Ray yakin akan segera ditentukan. Misalnya, ramainya dukung PPP kepada Ganjar, bisa jadi pertim­bangan untuk menduetkannya dengan Airlangga.

Baca juga : Konstitusi Tak Melarang Orang Mimpi Jadi Capres

“Ganjar memang bukan kader internal. Tapi hampir semua partai ingin pragmatis saja. Ingin menang. Kita tahu Ganjar elektabilitasnya stabil di 30 persen. Partai butuh efek ekor jas Ganjar,” tuturnya. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.