Dark/Light Mode

Riset Dukung Pembangunan Nasional

Wacana Dana Abadi Riset Dibutuhkan Indonesia

Senin, 18 Maret 2019 16:31 WIB
Cawapres 01 KH Maruf Amin saat debat capres, Minggu (17/3) di Hotel Sultan, Jakarta. (Foto; Wahyu Dwi Nugroho/Rakyat Merdeka)
Cawapres 01 KH Maruf Amin saat debat capres, Minggu (17/3) di Hotel Sultan, Jakarta. (Foto; Wahyu Dwi Nugroho/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemaparan Cawapres 01 KH Ma'ruf Amin terkait riset dalam Debat Cawapres 2019, patut diacungi jempol. Ma'ruf berjanji, akan menyiapkan dana abadi riset yang dikoordinir oleh Kementerian Ristekdikti, melalui pembentukan Badan Riset Nasional yang merupakan bagian dari Rencana Induk Riset Nasional (RIRN).

Anggota Komisi X DPR RI, Marlinda Poernomo Puteh menilai, gagasan Ma'ruf diyakini akan semakin menguatkan keberadaan riset, dalam mendukung pembangunan nasional.

Baca juga : Jokowi Usung Pembangunan, Airlangga: Sesuai Filosofi Golkar

 "Intinya, paslon 01 sudah paham bahwa kebijakan pembangunan bangsa, harus berpijak pada riset. Berbagai kebijakan yang disampaikan cawapres, cukup membumi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (18/3).

Marlinda menambahkan, ke depannya, riset yang akan jadi perhatian pemerintah mendatang, bisa menjawab tantangan menyambut industri 4.0. Terutama ntuk kesejahteraan, berkontribusi bagi pembangunan, dan juga solusi atas kebutuhan masyarakat. 

Baca juga : Doan: Berharap Anak Saya Dibebaskan Seperti Wanita Indonesia

Dalam debat jilid ketiga tu, Ma'ruf  menjelaskan bahwa riset merupakan ukuran kemajuan sebuah bangsa. Rencana integrasi lembaga riset dalam satu Badan Riset Nasional (BRN),  bertujuan menjawab 10-years challenge menjadi sebuah langkah terobosan yang akan dilakukan Jokowi di periode kedua pemerintahan di tahun 2019-2024.

Paling tidak, pembentukan BRN untuk lebih memaksimalkan alokasi dana riset yang tersebar di banyak kementerian, yang jumlahnya mencapai Rp 24,9 triliun di tahun 2018.

Baca juga : Himki Minta Keran Impor Furnitur Dibatasi

Politisi Partai Golkar ini mengakui, jumlah tersebut masih kurang. Maka, diperlukan keterlibatan BUMN dan swasta. Seperti yang dilakukan oleh negara maju di bidang riset. Tidak ada yang mengandalkan dana APBN atau dana pemerintah. Seperti di Korea, Jepang, Cina, atau Jerman, pihak swasta lebih banyak melakukan riset yang menggandeng universitas. 

"Tinggal perlu diatur pola kerja sama dana riset dari swasta dengan universitas, sehingga hasil riset dapat  dimanfaatkan  untuk kepentingan masyarakat," tandasnya. [HEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.