Dark/Light Mode

Partai Gelora Siapkan Program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

Minggu, 24 Januari 2021 15:54 WIB
Ketua Umum Partai Gombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta. (Ist)
Ketua Umum Partai Gombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta. (Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai Gombang Rakyat (Gelora) Indonesia telah merancang program untuk pemberdayaan ekonomi rakyat.

Ketua Umum Partai Gombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengatakan, program pemberdayaan ekonomi yang diusung terdiri dari pelayanan, pembinaan dan pembelaan (advokasi).

Anis menilai bahwa partai perlu memiliki program pemberdayaan ekonomi sebagai agenda penting membantu negara. Diharapkan bisa membantu memutar ekonomi dalam kondisi krisis. Seperti membantu mengembangkan UMKM secara masif.

"Klaster UMKM ini posisinya sangat kuat sekali untuk pemberdayaan masyarakat. Mudah-mudahan program ini akan sukses menjadi kebangkitan ekonomi baru dan menjadikan gelombang bagi Partai Gelora," kata Anis Matta dalam keterangannya, Sabtu (23/1).

Hal itu disampaikan Anis Matta saat menjadi narasumber Webinar Yespreneur Web Series #Day1 Traning Of Trainers.

Berita Terkait : Pemerintah Diminta Lebih Gesit dan Sigap Pulihkan Ekonomi Di Tengah Pandemi

Pendampingan UMKM yang diselenggarakan Bidang UMKM dan EKonomi Keluarga (Ekkel) Partai Gelora. Acara ini dibuka oleh Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah dan dihadiri Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM Eddy Satriya mewakili Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki yang berhalangan hadir.

Anis mengaku akan turun tangan secara langung untuk mengembangkan UMKM, termasuk mencarikan investor bagi UMKM agar bisa naik kelas ke kancah internasional.

"Jangan putus asa, jangan down dan tetap mempertahankan survival mood, serta fokuskan pada peluang, bukan krisisnya. Saya pribadi akan membantu jaringan ini dalam perspektif kolaborasi, akan menghadirkan investor lebih banyak," tegasnya.

Dia juga mengingatkan, dalam berbisnis, grafik ekonominya tidak naik terus, tapi juga mengalami fluktuasi. Sehingga untuk menyempurnakan kekurangan tersebut diperlukan kolaborasi.

"Dengan kolaborasi ini kita menyempurnakan kekurangan dengan kelebihan orang lain. Tanpa kolaborasi tidak banyak yang kita lakukan, apalagi kalau ada hambatan di dalam bergaul dan baperan," katanya.

Berita Terkait : Jokowi: Kemitraan Usaha Besar-UMKM Kerek Pertumbuhan Ekonomi

Dalam acara tersebut Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM Eddy Satriya mengatakan, jumlah UMKM saat ini tidak sebanding dengan kontribusinya kepada negara.

"Jumlah UMKM tercatat 60 persen, tapi kontribusinya rendah. Kita berharap Partai Gelora ikut mendorong keadilan ekonomi ini. Kita berharap UMKM pada 2021 tumbuh 65 persen," kata Eddy.

Untuk menumbuhkan UMKM, lanjut Eddy, Kementerian Koperasi dan UKM telah membuat program transformasi usah mikro dari informal ke formal, transformasi digitial dan transformasi rantai pasok.

"Intinya memberikan kemudahan kepada usaha mikro menjalankan usaha sehingga nyaman dan mendapatkan faslitas kemudahan, serta perlindungan hukum. Sehingga sejalan dengan Undang-undang Cipta Kerja yang memberikan penekanan keberpihakan pada kepada UMKM," terang Eddy.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah mengatakan, pada dasarnya usaha atau bsinis tidak memerlukan uang, tapi di mulai dari ide.

Berita Terkait : Masuk Kabinet, Jokowi Berhasil Taklukkan Prabowo Dan Sandi

"Usaha itu yang pertama mulai dari ide dulu, dan nggak bisa juga mau berbisnis berpikir, laris apa tidak, kerjakan dulu idenya," kata Fahri.

Setelah itu, mencari kepercayaan (trust) dan jaringan untuk mitra berbinis. Jadi menurutnya uang bukan yang pertama dipikirkan tapi ide.

"Orang kalau dipercaya harus punya trust dan orang kalau jiwanya baik akan dipercaya. Yang penting juga jaringan, orang mau sukses ya harus banyak berteman, karena memiliki pemasaran, modal dan macem-macem," katanya.

Selain itu, kata Fahri, yang perlu diperhatikan UMKM di Indonesia adalah masalah packaging (pembungkusan) produk yang dinilai kurang menarik atau sekedarnya saja, berbeda dengan UMKM di luar negeri yang menggunakan teknologi packaging untuk mmbungkus produknya.

"Kenapa Apel Australia diterima sementara Apel Malang tidak, karena masalah packaging. Selain soal packaging, UMKM kita perlu dibuatkan marketplace digital maupun fisik, serta dukungan regulasi untuk mendapatan permodalan," katanya. [JAR]