Dark/Light Mode

Debat Panas Kang Emil Versus Pongrekun Soal Pandemi Covid-19 Dan Komando Pusat

Minggu, 6 Oktober 2024 23:51 WIB
Debat panas antara Calon Gubernur (Cagub) nomor urut 1 Ridwan Kamil versus Cagub nomor urut 2 Dharma Pongrekun di Debat pertama Pilgub Jakarta 2024, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu (6/10) malam WIB. Foto: YouTube/KPU Provinsi DKI Jakarta
Debat panas antara Calon Gubernur (Cagub) nomor urut 1 Ridwan Kamil versus Cagub nomor urut 2 Dharma Pongrekun di Debat pertama Pilgub Jakarta 2024, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu (6/10) malam WIB. Foto: YouTube/KPU Provinsi DKI Jakarta

RM.id  Rakyat Merdeka - Debat pertama Pilgub Jakarta 2024 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Minggu (6/10) malam, memanas ketika Calon Gubernur (Cagub) nomor urut 1, Ridwan Kamil, berhadapan dengan Cagub nomor urut 2, Dharma Pongrekun

Kang Emil, sapaan Cagub nomor urut satu melontarkan pertanyaan soal penanganan pandemi Covid-19 kepada Cagub nomor urut 2 di segmen keempat Debat Pilgub Jakarta 2024.

Untuk diketahui, di segmen ini para calon gubernur diizinkan untuk mengajukan pertanyaan langsung kepada lawan dan menanggapinya.

"Andai waktu bisa diputar kembali, kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan pandemi ini? Karena banyak sekali korban dari pandemi," tanya Kang Emil, kepada Pongrekun.

Jenderal polisi bintang tiga itu langsung memberikan jawaban dengan suara tegas dan nada tinggi.

Berangkat dari pengalamannya yang pernah malang melintang di dunia kepolisian, siber hingga intelijen, pandemi menurutnya adalah isu kesehatan yang tidak hanya bisa dilihat secara tertulis, tapi juga harus dibaca secara tersirat.

Baca juga : Debat Pilgub Jakarta, Kang Emil Paparkan 5 Prinsip Kepemimpinan Dan Programnya

"Jadi kita harus selalu waspada atas segala isu yang ada. Apakah itu genuine atau infiltrasi asing mengambil kedaulatan bangsa lewat isu kesehatan," tegas Pongrekun, yang disambut tepuk tangan meriah dari pendukungnya.

Ia kemudian menyoroti penggunaan PCR selama pandemi. Sebab, alat tersebut, menurut Pongrekun sebetulnya tidak dirancang untuk mendeteksi virus. Tapi hanya untuk mengetes asidosis.

"Lalu kenapa harus dicolok-colok? Kenapa tidak ambil dari ludah kalau memang mau mengetes virus?" tanyanya.

Jenderal polisi bintang tiga yang cukup vokal mengkritik penanganan pandemi Covid-19 lalu ini menilai kebijakan pemerintah selama pandemi menurutnya lebih banyak menakut-nakuti masyarakat dan menghancurkan ekonomi masyarakat.

Oleh sebab itu, pemimpin masyarakat, terutama otonomi daerah DKI menurutnya, harus memperjuangkan segala sesuatu untuk melindungi warga negaranya. 

"Jangan sampai gara-gara pandemi ekonomi hancur, dibiasakan online, UMKM hancur, kemudian rakyat ditakut-takuti. Bagaimana akan menuju kota global yang sejati kalau hati rakyatnya disakiti, pikirannya dirusak dan badannya diracuni. Semua itu adalah omong kosong belaka," tandasnya.

Baca juga : Jalani Tes Kesehatan, Kang Emil Ngaku Banyakin Konsumsi "Vitamin D"

Giliran Kang Emil, ia menilai perbedaan pendapat dalam penanganan pandemi adalah hal yang biasa. 

"Kita perdebatkan di ruang-ruang yang sifatnya politik atau di ruang-ruang yang bisa menginfokan bahwa ada perspektif lain dalam menyelesaikan sebuah permasalahan seepik pandemi," tuturnya.

Akan tetapi, ia menegaskan bahwa ketika penanganan krisis kesehatan seperti pandemi Covid-19, pemerintah daerah diharuskan untuk ikut satu komando, yakni kebijakan pemerintah pusat.

"Maka yang namanya Gubernur harus taat. Maka yang namanya Bupati/ Wali Kota harus ta'at. Karena dalam pengelolaan krisis memang harus satu komando," jelasnya.

Meskipun dalam prosesnya terjadi perbedaan pendapapat. "Tapi ketika sudah diputuskan oleh pemimpin level presiden, tentulah serempak di bawah harus mengamankan, menjalankan dan menyelesaikan masalah secara kolaborasi," tegasnya lagi.

Giliran Pongrekun, ia menanggapi pernyataan Kang Emil dengan mengutip adagium Latin salus populi suprema lex esto, yang berarti keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. 

Baca juga : Menhub Geber Proyek Di Medan Dan Bandung

"Jangan adagium itu digunakan dengan cara yang terbalik. Seolah-olah ingin menyelamatkan rakyat, tetapi udang di balik batunya sebaliknya ingin menghancurkan rakyat. Sehingga rakyat semua menjadi tidak bisa hidup dan bahkan akan menjadi budak," ungkap Pongrekun, kembali disambut riuh dan tepuk tangan hadirin.

Ia juga mengingatkan tentang adanya bahaya di balik program control population atau kontrol populasi. Karena setiap aktivitas warga diawasi.

"Jadi perjalanan menuju 2045 akan menjadi masa kecemasan bukan masa keemasan ketika rakyat harus ditakut-takuti dengan segala macam regulasi," ingatnya 

Untuk itu, Pongrekun berpandangan bahwa dalam menghadapi krisis seperti pandemi, seorang pemimpin harus berani berdiri di depan melindungi rakyatnya.

"Harus berani berdiri di depan untuk mengambil tanggung jawab dan resiko apapun untuk menyelamatkan rakyat," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.