Dewan Pers

Dark/Light Mode

Museum Bawah Laut BMKT Pertama Di Indonesia

Sylviana Jempolin Tidore Kepulauan Kembangkan Wisata Bahari

Jumat, 2 September 2022 11:44 WIB
Ketua BKSP Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Sylviana Murni (kanan) dikunjungi Wali Kota Tidore Kepulauan, Capt. Ali Ibrahim (kiri) di kantor DPD, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (1/9). (Foto: Istimewa)
Ketua BKSP Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Sylviana Murni (kanan) dikunjungi Wali Kota Tidore Kepulauan, Capt. Ali Ibrahim (kiri) di kantor DPD, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (1/9). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Badan Kerja Sama Parlemen (BKSP) Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Sylviana Murni dikunjungi Wali Kota Tidore Kepulauan, Capt. Ali Ibrahim di kantor DPD, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (1/9).

Pada kesempatan tersebut, Sylvi mengajak Ali untuk dialog santai menggunakan media podcast DPD.

“Alhamdulillah luar biasa nih, kita kedatangan tamu dari negeri di atas awan, Tidore Kepulauan, Pak Wali Kota Tidore Kepulauan, satu-satunya Kepala Syahbandar di Indonesia yang menjadi Wali Kota,” ujar Sylvi, Kamis (1/9).

Sylvi mengatakan, masyarakat Maluku Utara merupakan masyarakat paling bahagia di Indonesia. Hal itu, kata Sylvi sesuai dengan Index Kebahagiaan yang dirilis pada 2021 lalu. Selain itu, Sylvi juga menanyakan sejumlah hal terkait dengan pariwisata Tidore Kepulauan.

“Saya sudah dua kali ke Tidore Pak, dan saya lihat begitu banyak potensi wisata laut yang bisa dikembangkan di sana. Selain diving ya, saya terkesan dengan spot wisata bawah lautnya, terlebih saya dapat info akan dibangun museum bawah laut,” ujar Sylvi.

Berita Terkait : Tawarkan Konsep Museum Bawah Laut, Pemkot Tidore Kepulauan Kunjungi Bakamla

Mantan Wali Kota Jakarta Pusat ini juga menyarankan Ali untuk terus berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam).

Lebih lanjut, Sylvi menyinggung soal kesiapan Sail Tidore yang rencananya akan digelar pada November 2022.

“Saya rasa untuk mewujudkan gagasan bagus ini, selain ke Bakamla dan Kemenparekraf, Pak Wali juga harus temui Pak Menko Polhukam, atau bahkan ke Presiden langsung karena ini bukan hanya aset daerah, tapi juga aset nasional. Akan jadi wisata kelas dunia lho,” ungkapnya.

Menanggapi berbagai pertanyaan Sylvi, soal Indeks kebahagiaan, kata Ali, itu merupakan salah satu kerja nyata Gubernur Maluku Utara dalam membangun kehidupan warganya.

Ia juga menuturkan bahwa pihaknya akan terus memperjuangkan gagasan Museum Bawah Laut BMKT pertama di Indonesia dan potensi wisata bahari Tidore Kepulauan hingga terwujud.

Berita Terkait : Bekuk Bhayangkara FC, Vera Jempolin Semangat Pendekar Cisadane

“Tentu, semua potensi wisata di tempat kami akan terus kami perjuangkan sampai terwujud. Tidak hanya museum bawah laut yang sudah jelas akan mengangkat pariwisata Indonesia ke dunia Internasional, tapi juga semua potensi wisata bahari lainnya,” ujar Ali.

Terkait Sail Tidore 2022, Ali berharap event tersebut tetap digelar pada November 2022. Menurutnya, acara akbar tersebut sudah tertunda dua kali sejak Pandemi Covid-19.

“Kami berharap ini tidak diundur lagi karena SK-nya juga sudah turun dari Menteri Maritim dan Investasi. Ini juga sudah dua kali mundur yang awalnya akan diadakan tahun lalu, karena pandemi, akhirnya mundur ke September. Tapi, karena ada G20, mundur lagi jadi November,” ujar Ali.

“Harapan kami tentu dengan Sail Tidore ini juga kan akan mengangkat pariwisata Tidore dan tentu akan mendorong pertumbuhan ekonomi di sana. Terutama, ini momentumnya setelah pandemi Covid-19,” sambungnya.

Dalam agenda tersebut, Ali didampingi oleh Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (UI) Dr. Rachma Fitriati MSi.

Berita Terkait : Partai Garuda: Tuduhan Ke PT Taspen Hanya Cerita Fiksi

Rachma menyampaikan, bahwa Pemkot Tidore Kepulauan telah memiliki kerjasama riset dengan UI untuk membangun Daya Saing Daerah di Kota Tidore Kepulauan lewat Wisata Selam Berkelas Dunia.

“Kami memiliki riset bersama Pemkot Tidore Kepulauan untuk mewujudkan Museum Bawah Laut BMKT dan wisata selam lainnya,” ujar Rachma.

Terdapat puluhan guci peninggalan Kapal Spanyol yang tenggelam abad ke-16 ini, itu sudah diangkat ke daratan tahun 1990-an.

Sayangnya, guci-guci tersebut kurang mendapat atensi dari wisatawan, terlebih disimpan begitu saja di gudang milik Pemkab Halmahera Tengah. “Kami memandang, jika guci-guci ini dikembalikan ke dasar laut (release) di tempat temuan semula, yaitu situs peninggalan bawah laut di Kelurahan Tongowai, maka akan menjadi obyek wisata selam yang unik dan menarik, karena tidak ditemukan di lokasi penyelaman lainnya di dunia,” ujarnya.
 Selanjutnya