Dewan Pers

Dark/Light Mode

Perang, Dopamin Dan Kesepian

Selasa, 22 Maret 2022 07:40 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Kenapa harus perang? Kenapa Rusia melakukan agresi militer ke Ukraina? Kenapa Amerika Serikat selama puluhan tahun “melanglang buana” ke banyak negara? Kenapa beberapa negara di Afrika atau Timur Tengah terlibat perang saudara? Penyebabnya banyak. Salah satu nya, ada hubungannya dengan pemimpin.

Karena ada perang Rusia-Ukraina, mata tentu tertuju ke Presiden Rusia Vladimir Putin. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, tentu juga bisa dinilai.

Mantan bos Agen Intelijen Uni Soviet (KGB), Oleg Kalugin sedikit memberi bocoran mengenai Putin. Putin adalah anak buahnya ketika masih menjadi agen intelijen di St Petersburg, Rusia.

“Putin adalah pria kesepian yang masih ingin berkuasa,” katanya ketika diwawancarai Kellie Meyer dari News Nation.

Berita Terkait : Jangan Nyerah, Negara Harus Kuat

Kalugin yang sekarang justru men jadi musuh Putin mengatakan, Putin akan tetap berkuasa selama dia mampu dan masih bernafas. Dia bahkan bisa nekat menggunakan nuklir. Karena itu, Kalugin mengingatkan semua pihak untuk berhati-hati.

Beberapa ahli mengatakan, kecan duan terhadap kekuasaan sama berba hayanya dengan kecanduan narkoba, alkohol, gaming, gadget, judi bahkan kekayaan.

Penelitian menyebutkan bahwa perasaan senang yang sangat beragam itu dikait kan dengan dopamin, zat kimia yang sangat kuat yang ada di otak. Mereka menyebutnya “pusat kesenangan”. Ada juga yang menyebut nya “hormon bahagia”.

Dopamin memberi energi, motivasi dan hasrat termasuk hasrat berkuasa. Ke tika dilakukan penelitian terhadap se ke lompok tikus, terbukti bahwa tikus-tikus yang kekurangan dopamin benar-benar mati kelaparan. Kenapa? Karena, tikus-tikus itu tidak memiliki motvasi untuk mencari makan.

Berita Terkait : Etika Dan Balon Warna-warni

Sayangnya, motivasi kuat yang bersemayam di otak itu, tidak membedakan antara aktivitas positif dan negatif. Bahkan ketika perilaku itu mengancam jiwa diri sendiri maupun orang lain. Juga bisa sampai skala yang lebih besar: mengancam bangsa.

Kekuasaan besar itu bisa berkola borasi dengan kesepian. Bukan ke sen dirian. Itu dua hal yang berbeda.

Para pemimpin bisa berada di tengah keramaian, dieluelukan, dipuja-puji, tapi dia bisa kesepian.

Kenapa itu terjadi? Susan Bond, seorang penulis yang juga pendiri beberapa perusahaan rintisan menjawab: karena pemimpin memiliki ham batan untuk terhubung pada tingkat yang dalam dengan rakyat kebanyakan.

Berita Terkait : Crazy Rich, Bukan "Crazy Law"

Penyebabnya, antara lain, karena faktor perbedaan kekuasaan. Atau, karena takut mengungkapkan terlalu banyak hal yang bersifat pribadi.

Bisa juga karena pemimpin tersebut menyimpan informasi rahasia yang tidak dapat dibagikan. Mereka ingin curhat atau mengeluh, tapi tidak bisa sembara ngan karena kepemimpinannya bisa dira gu kan. Di sinilah celah muncul nya kesepian.
 Selanjutnya