Dewan Pers

Dark/Light Mode

Menghapus Mental Impor

Rabu, 15 Juni 2022 06:10 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi kembali menunjukkan kejengkelannya karena masih banyak kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dan juga BUMN, yang doyan menggunakan barang impor. Kejengkelan ini bisa dipahami, karena memang banyak pihak sepertinya susah diingatkan untuk lebih mengutamakan produk dalam negeri.

Ada banyak indikator prestasi dan tidak berprestasinya sebuah pemerintahan. Antara lain dari volume ekspor dan impornya. Dua kegiatan tersebut mencerminkan kelas kepemimpinan pemerintahan.

Berita Terkait : Pendukung Baperan

Kalau sebuah pemerintahan tercatat banyak melakukan kegiatan ekspornya, tanda pemerintah dan rakyatnya bekerja dan produktif. Lebih dari itu, memiliki mental dan kekuatan untuk berdaya saing di luar negeri.

Bila volume ekspor ke luar negerinya konsisten dan terus naik, tanda ia berhasil merumuskan dan mengimplementasi kebijakan yang merangsang rakyatnya menjadi produsen sekaligus menjadi global players. Biasanya yang begini lahir jika leadershipnya kuat dan bernyali.

Berita Terkait : KPK Dan Netizen

Kalau sebuah negara ternyata sebaliknya, lebih besar volume impornya, maka pemerintah dan bangsa ini gagal mentransformasi diri secara radikal. Selama ini, bangsa kita masih dikategori sebagai importir. Para elite seperti lebih suka barang impor. Banyak hal pokok seperti pangan, sandang, papan. Kita masih bermental konsumen bukan produsen.

Kalau pemerintahan banyak kegiatan impornya, tanda-tanda ada yang salah dari para elitenya. Mereka tak punya kekuatan untuk melawan mafia impor dan menghapus mental impor. Tidak punya kekuatan mendorong rakyat untuk membangun jiwa ekspansif dan tampil menjadi pemain global.

Berita Terkait : Hati-hati! Politisi Kompor Berkeliaran

Lalu, yang terjadi kita menjadi bangsa konsumen. Maunya ngimpor terus. Lahan dan potensi kekayaan tidak dimanfaatkan sebagai kekuatan. Selalu gagal membangun kemandirian. Sungguh ironi memang.