Dewan Pers

Dark/Light Mode

Peran Wapres

Jumat, 17 Juni 2022 06:10 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin tak hadir dalam pelantikan menteri baru saat reshuffle kabinet, Rabu kemarin. Sempat ada pertanyaan, ke mana Kiai Ma’ruf? Bahkan, muncul isu Kiai Ma’ruf tidak dilibatkan dalam reshuffle. Ternyata, Kiai Ma’ruf sedang melakukan kunjungan kerja ke daerah untuk mewakili Presiden Jokowi.

Selama ini, peran Wapres memang sering menjadi diskusi panjang. Bukan hanya sekarang, tapi sejak dulu.

Pada masa Orde Baru, posisi Wapres itu powerless. Hanya kedudukan yang bersifat hiasan/figuran semata. Tak punya peran strategis apa pun. Ada tapi tiada. Kegiatannya hanya seremonial dan tak pernah mengambil kendali dalam pengambilan keputusan, baik kenegaraan maupun pemerintahan.

Berita Terkait : Menghapus Mental Impor

Kegiatan Wapres benar-benar ban serep. Jadwal diatur protokol Presiden. Jangankan kekuasaan, panggung politik pun tidak. Cuma ngantor saja dan hadir di beberapa acara seremonial yang bersifat hiburan sosial. Miskin pemberitaan.

Di zaman SBY, terjadi perubahan. Saat itu ada pembagian peran dan tanggung jawab di antara SBY dan JK. Namun, rupanya relasi kekuasaan di antara keduanya memunculkan beberapa ketegangan terselubung.

Ada konflik dingin yang memanjang hingga ujung usia kekuasaan mereka berakhir di periode pertama. Keduanya pecah kongsi di penghujung kekuasaan. Lalu jadi seteru. Menjadi preseden buruk untuk ke depan tidak terulang.

Berita Terkait : Pendukung Baperan

Saat JK jadi wapresnya Jokowi, terjadi pola relasi baru yang berbeda. Wapres JK seperti mengambil peran aman. Tidak mengambil peran yang bisa membangun citra adanya "matahari kembar" di tubuh pemerintah. JK belajar banyak dari masa lalu.

Sekarang, Wapres Kiai Ma'ruf Amin sedang meraba peran yang dimainkan. Rasanya sudah benar bila saat ini Kiai Ma'ruf mengambil tanggung jawab untuk terus mencipta persatuan yang diikat dalam kerukunan antar umat beragama. Tetaplah dan maksimalkan diri di situ.

Kiai Ma'ruf harus banyak membuat program yang mempersatukan bangsa ini. Terlalu banyak yang ingin mencari dan membesar-besarkan perbedaan yang pada gilirannya bisa memecah belah. Wapres mengambil tanggung jawab ini saja luar biasa. ■