Dewan Pers

Dark/Light Mode

Politisi Kompor Berkeliaran

Senin, 4 Juli 2022 06:10 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Politik itu barang panas. Begitu pun hawanya. Tidak heran jika orang-orang di sekitarnya sering main panas. Juga memanas-manasi.

Sudah nature-nya manusia memiliki syahwat politik untuk berkuasa. Skalanya saja yang berbeda. Dengan ungkapan lain, berpolitik itu bawaan lahirnya manusia.

Pada perkembangannya, ada yang memutuskan untuk menekan kehendak politiknya. Namun, tidak sedikit yang melesakkan bawaannya itu lepas kendali. Apa saja dipolitisasinya. Ia benar-benar terjangkit penyakit politicking. Sesuatu yang sederhana tapi disikapinya, ditafsirinya, secara politis.

Berita Terkait : Negeri Siaga Bencana

Dunia politik banyak diisi oleh orang-orang yang punya kebiasaan memanas-manasi. Kenyataan ini yang telah mendorong orang-orang adem jadi punya nafsu politik. Inilah model politisi kompor. Seringkali huru-hara politik terjadi karena provokasi para kompor politik ini.

Mereka, dengan kemampuan orasinya, membakar emosi publik. Mereka, dengan kemampuan menulisnya, bisa menyulut emosi pembaca. Dalam kono tasi positif posisi seperti ini bisa menginspirasi sebuah gerakan aksi sosial yang bisa menggulingkan kekuasaan politik.

Di zaman now, para kompor ini berkeliaran di mana-mana. Di semua level kekuasaan, ada. Dan mereka benar-benar mencari makan dari hasil memanas-manasi situasi agar terjadi chaos. Dengan demikian, mereka bisa mendapat kesempatan mengambil peran dan posisi politik.

Berita Terkait : Musim Pencitraan

Pekerjaan para kompor ini di era sekarang bisa memperluas provokasinya ke ranah publik dengan media sosial. Sudah terasa makanya, betapa berisiknya politik kita. Benar-benar gaduh, karena sudah semakin tereskalasi oleh kompetisi menuju Pilpres 2024.

Semakin mendekati pesta demokrasi, semakin keras terasa benturannya. Sudah ada yang mulai main kayu. Isu-isu sensitif terus dimainkan dengan rekayasa kerja hoaks.

Kita berharap, para kompor ini segera menyadari kekhilafannya terhadap bangsa ini. Ongkos sosialnya terlalu mahal bila sampai terus terjadi pembelahan. Segeralah menahan diri. ■