Dewan Pers

Dark/Light Mode

PMK Bisa Nanduk Siapa Saja

Selasa, 5 Juli 2022 06:39 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Ini serius. Alarmnya kian nyaring. Senin kemarin (4/7), seminggu sebelum Idul Adha, wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) telah meluas ke 21 provinsi. Menyerang 229 kabupaten/kota. Ribuan ekor hewan ternak mati.

Beberapa hari sebelumnya masih 19, kemudian naik 20, sekarang 21 provinsi. Sungguh mengkhawatirkan kalau penyakit yang menimpa hewan ternak ini terus meluas.

Eskalasinya sangat serius. Di Inggris misalnya, 21 tahun lalu, hanya dalam dua minggu wabah ini menyerang seluruh negeri. Rakyat dan pemerintahnya kelabakan karena dampak ekonominya sangat besar.

Di Indonesia, para peternak dan pedagang hewan ternak sudah banyak yang mengeluh dan berteriak. Hari raya idul kurban yang mestinya jadi musim panen penuh kegembiraan, berubah menjadi hari-hari menyedihkan. Masyarakat juga khawatir. Kerugian diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah.

Berita Terkait : Politik Sonder Kepekaan

Wajar kalau dalam rapat dengan Kementerian Pertanian, ada anggota DPR yang “murka”.

“Tolong serius bernegara. Anda semua kejam lho. Ini wabah bukan bercanda. Minggu lalu saya sudah warning. Kalau anda mencatat dan mencamkan warning tersebut dengan baik, ini mestinya sudah teraplikasi. Anda punya waktu. Kalau begini, dimana kehadiran negara?” tegas anggota DPR tersebut seperti ditayangkan TV Parlemen.

Laman siagapmk.id menyebutkan, sampai Senin kemarin, yang tercatat sebanyak 316.593 ekor hewan ternak terkena PMK. Mati 2.003 ekor. Dalam perawatan 205.361. Ada juga yang sembuh. Ini yang tercatat. Kasus terbanyak di Jatim dan NTB.

 

Sangat mencemaskan, apalagi sudah puluhan tahun Indonesia terbebas dari penyakit ini. Membuka impor ternak dari India, diduga menjadi penyebab kembali mewahnya penyakit “jadul” ini.

Berita Terkait : Polarisasi Akan Menguat?

Sejak menyerang akhir April 2022, kerugian diperkirakan sudah lebih dari Rp 20 triliun!

Melihat kondisi mengkhawatirkan ini, wajar kalau wakil rakyat tersebut “ngamuk” sampai menyinggung anggaran food estate yang diperjuangkannya, termasuk untuk peternakan, senilai Rp 800 miliar.

Keseriusan bernegara memang sangat dibutuhkan. Hasil pembicaraan di gedung wakil rakyat yang nyaman dan ber-ac, mestinya sampai ke petani dan peternak. Ada kesinambungan dan keterkaitan di tataran atas dan bawah.

Apalagi, di masyarakat kita hewan ternak adalah sumber utama penghasilan. Bahkan, ada yang mengatakan, di Jawa Timur, saking pentingnya, sapi ditempatkan di ruang tamu.

Berita Terkait : Membangun Warisan Politik Keluarga

Persoalan serius ini perlu ditangani serius. Tegas, fokus, cepat, tepat dan tuntas. Jangan main-main. Karena, banyak sekali yang bergantung dan berharap; peternak, tenaga kerja, perdagangan, transportasi, industri kuliner kaki lima sampai hotel bintang lima.

Awas PMK! Bisa menanduk kanan-kiri. Siapa saja. Hati-hati. Banyak yang sudah “ditanduk” kasus hewan dan daging ternak. ■