Dewan Pers

Dark/Light Mode

Rebutan Kursi Tontonan Menarik

Selasa, 23 Juli 2019 06:13 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Ternyata ada yang lain. Ada opsi alternatif mengenai kursi ketua MPR. Bukan hanya Golkar dan PKB yang memperebutkan kursi tersebut. PAN, Gerindra, juga PDIP juga ikut bersuara dalam perburuan kursi ketua MPR.

Ketua MPR, kata PAN, bisa saja berasal dari luar koalisi Jokowi. Wah, tambah ramai. Rakyat akan disodori manuver-manuver baru. Ada tontonan baru lagi di panggung. Sebelumnya, kita menyaksikan perebutan kursi menteri oleh anggota koalisi Jokowi maupun di luar koalisi.

Kursi wagub DKI Jakarta, juga belum tuntas-tuntas meski sudah kosong hampir setahun setelah ditinggalkan Sandiaga Uno.

Perebutan posisi ketua umum parpol juga sedang hangat-hangatnya, terutama kursi ketum Golkar antara Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo.

Berita Terkait : Bursa Menteri

Beberapa parpol lain, juga terjadi riak. Di beberapa parpol ada suara-suara supaya Munas dipercepat. Karena, posisi ketum parpol menjadi penentu siapa yang jadi menteri, pimpinan DPR maupun MPR.

Di Mahkamah Konstitusi (MK), juga berlangsung sidang sengketa hasil pemilu legislatif. Bahkan, ada caleg yang gagal mendapat kursi, menggugat parpolnya sendiri.

Sekarang, perebutan kursi ketua MPR menjadi lebih rumit. Kalau Kursi ketua DPR hampir pasti diduduki PDIP sebagai peraih suara terbanyak, ketua MPR pemilihannya lebih luas. Berbeda dengan DPR, pemilihan ketua MPR melibatkan 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

DPD bisa menjadi kuda liar karena tidak terikat koalisi Jokowi atau Prabowo. Kita ingat, bagaimana heboh dan rumitnya perebutan kursi ketua DPR dan MPR lima tahun lalu. Lobi dan debatnya berlangsung dari pagi sampai pagi lagi.

Berita Terkait : Siapa Masuk Dan Keluar?

DPD menjadi penentu. Mengingat pengalaman lima tahun lalu, PAN sekarang yakin, mereka bisa kembali menduduki kursi Ketua MPR meskipun bukan anggota koalisi pemenang pemilu. Ini membuat langkah PKB dan Golkar sedikit terjal.

Adanya usulan rekonsiliasi pembagian kekuasaan 55:45 antara Koalisi Jokowi dan Koalisi Prabowo yang dilontarkan Amien Rais, menambah runyam perebutan bermacam-macam kursi tersebut.

Semua punya kartu dan bisa memainkannya. Untuk tawar-menawar. Pertanyaan yang selalu muncul di tengah tontonan ini: rakyat dapat apa? Semoga rakyat disuguhi atraksi atau manuver yang baik, mendidik dan bermanfaat.

Karena, perebutan kursi yang tidak mendidik bisa mengundang antipati terhadap politik, kader parpol, atau parpol. Semoga perebutan kursi ini berakhir manis buat rakyat.

Berita Terkait : Kenapa MRT?

Karena kursi dan tahta itu untuk rakyat. Karena empat kaki kursi-kursi itu ditopang oleh tumpukan kepercayaan, amanat dan harapan rakyat.***