Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Penanganan polusi udara di Jabodetabek harus bisa dilakukan dengan cepat. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sebab, apabila polusi ini berlarut-larut, kerugian yang akan kita tanggung sangat besar. Mulai dari munculnya banyak penyakit di masyarakat, jebolnya anggaran BPJS Kesehatan, sampai penurunan ekonomi masyarakat.
Dari sisi kesehatan, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menerangkan, polusi udara berkontribusi besar terhadap enam penyakit gangguan pernapasan. Yaitu pneumonia (infeksi paru), infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), asma, tuberkulosis, kanker paru, dan penyakit paru obstruksi kronis (PPOK).
Baca juga : Diresmikan Presiden, SPAM Mebidang Layani 88.000 SR
Dampak buruk polusi terhadap kesehatan sudah terasa. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat, sekitar 100.000 warga Ibu Kota menderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) setiap bulannya akibat polusi. Kementerian Kesehatan mencatat lebih banyak lagi. Menkes menyebut, sebelum Covid-19, rata-rata pasien ISPA 50.000 orang. Kini, saat polusi melanda, pasien ISPA melonjak menjadi 200.000.
Dokter Tirta Mandira Hudhi meminta Pemerintah membuat langkah konkret dan besar untuk mengatasi polusi udara ini. Dalam cuitannya, dia bilang, jika solusi yang dikeluarkan hanya Work from Home (WFH) dan kendaraan listrik (EV), penanganan polisi tidak akan cepat. “Keburu bronkitis kronis orang-orang di Jabodetabek,” tulisnya.
Baca juga : Polusi Bukan Masalah Sepele
Dari sisi anggaran, polusi ini memakan biaya yang sangat besar. Menurut Menkes, tahun lalu saja, biaya yang ditanggung BPJS Kesehatan untuk enam penyakit pernapasan mencapai Rp 10 triliun. Tahun ini, dengan polusi yang sangat tinggi, diperkirakan biayanya lebih besar lagi.
Dari sisi ekonomi, Menparekraf Sandiaga Uno menjelaskan, jika polusi ini berlarut, berpotensi mengganggu industri pariwisata. Secara luas, dalam estimasi sementara, kerugiannya bisa mencapai Rp 20 triliun-Rp 30 triliun. Tentu ini jumlah yang sangat besar.
Baca juga : Pilih Cawapres, Ganjar dan Anies Banyak Syaratnya
Khusus untuk pariwisata, memang saat ini belum terpengaruh. Sejauh ini, destinasi wisata di Jabodetabek masih ramai dikunjungi. Namun, jika polusi terus melanda plus berbagai pemberitaan negatif yang muncul, bukan tidak mungkin turis menjadi ogah datang ke Jakarta dan sekitarnya.
Untuk itulah, dibutuhkan langkah cepat, konkret, dan massal. Penanganan polusi ini harus dilakukan bersama-sama dengan segera. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, LSM, sampai warga di wilayah masing-masing. Semua harus bergerak. Karena yang dirugikan akibat polusi juga semua.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya