Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Jari-jari pun ikut politik. Pose satu jari, dianggap pro Jokowi. Dua jari dituding Prabowo. Sekarang ada lagi, nomor tiga, yang diam-diam mengkampanyekan Golput. Posenya mungkin 3 jari.
Kalau bisa protes, jari-jari pasti akan protes karena telah dipolitisasi. Politisasi tiap lima tahun sekali atau setiap pilkada. Jari-jari merasa mereka telah diadu domba.Jari-jari ini heran, kenapa manusia yang berpolitik miskin substansi. Mereka sangat sibuk soal jari. Ribut soal tampang Boyolali, politik sontoloyo atau genderuwo. Saling serang, saling lapor. Tak ada hentinya. Ribut terus.
Setelah ribut-ribut, jari akhirnya menjadi tersangka. Diseret ke persidangan Disidang di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Terlapornya: Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Anies mengacungkan dua jadi di acara Gerindra.
Jumat (11/1) lalu, Bawaslu menyatakan tidak ada unsur pidana terhadap dua jari Anies. Laporan tersebut dihentikan. Anies lolos. Kubu Prabowo tak mau kalah. Mereka membalas dengan mengungkit beberapa kepala daerah yang mengacungkan satu jari. Salam satu jari yang diacungkan Menteri Sri Mulani dan Luhut Panjaitan di acara IMF, di Bali, juga diungkit-ungkit.
Alkisah, ulah manusia ini justru ditertawai para jari. Karena, ribut-ribut, saling serang, ingin menang sendiri, menyalahkan pihak lain, mengedepankan ego; sudah dilewati para jari jutaan tahun yang lalu. “Bawaslu” sudah pernah menyidangkan ini. Itu kisah masa lalu. Primitif. Menurut para jari.
Dulu, dalam “persidangan”, jempol merasa paling hebat. Meski pendek, gempal, tapi baik-buruk, bagus-tidaknya hasil karya, dia yang menentukan. Mau jempol ke batas atau ke bawah, terserah dia. Dia juga diangkat sebagai ibu jari.
Baca juga : Melepas Lelah Di Senayan
Telunjuk tak mau kalah. “Sayalah yang berkuasa. Perintah apa pun pasti menggunakan telunjuk. Bukan jari lain, apalagi jari tengah”.
Jari tengah yang merasa tersinggung. “Sayalah yang paling tinggi. Saya berkuasa. Saya membawahi kalian semua. Saya mau melakukan apa saja, terserah. Mau menginjak-injak kalian, bisa! Memukul kalian sampai babak belur bisa!”.
Jari manis membela diri. Dia merasa yang paling cantik. Paling manis. “Manusia kalau menikah, memasang cincin kawinnya yang mahal itu di jari manis, bukan di kelingking”.
Kelingking bersedih. Tapi “hakim Bawaslu” sangat bijak. “Kelingking, kau jangan bersedih,” kata hakim. “Empat jari itu, tidak akan bisa melakukan sesuatu dengan sempurna tanpa kelingking”.
Hakim yang menyidangkan para itu kemudian memutuskan: Tidak ada yang lebih baik satu sama lain. Kalian harus bersatu. Kerjasamalah. Jangan merasa paling hebat, paling berkuasa sehingga merendahkan yang lain.
Bisa dimaklumi kalau jari-jari itu, sekarang, menertawakan ulah manusia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.