Dark/Light Mode

Dewa Janji

Minggu, 16 Desember 2018 06:09 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada yang bertaruh dan janji potong kuping. Ada juga yang berani potong leher. Belum ada yang bertaruh potong gaji. Yang lain, berjanji mau jalan kaki dari kotanya sampai ke Jakarta. Ratusan kilometer jauhnya. Di Pilkada DKI, ada pula yang mau terjun dari gedung tinggi. Yang janji satu juta rupiah per KK selama lima tahun, juga ada.

Janji menurunkan angka korupsi, menyejahterakan rakyat, mengurangi atau bahkan menghilangkan pajak, sudah umum. Saking semangatnya, ada juga yang menjanjikan sebuah jembatan, walaupun di daerah itu tak ada sungai. Macam-macam. Begitulah janji-janji politik. Diluncurkan menjelang pemilu, dan sulit ditagih setelah pemilu. Rakyat senang dengan janji-janji. Karena, janji-janji adalah harapan. Walau terkadang kosong. Ketika harapan hancur, sakit. Di Amerika, yang perjalanan demokrasinya sudah panjang, sudah ada yang membuat kriteria atau penggolongan janji-janji politik. Ada semacam pemilihan. Salah satunya: janji paling aneh dan paling “gila”.

Baca juga : Rompi Kuning, Bendera Putih

Janji-janji kampanye aneh-aneh itu, dibilang serius, kadang terdengar main-main. Dibilang main-main, ternyata serius. Donald Trump misalnya, memenangi Pilpres AS dengan janji-janji unik. Aneh dan kontroversial. Misalnya, Trump dengan lantang berjanji akan membangun dinding pembatas antara Meksiko dan Amerika Serikat. Meksiko harus membayarnya.

Amerika yang bangun, Meksiko yang bayar! Trump juga berjanji akan menutup pintu masuk bagi orang-orang muslim. Dia juga berjanji akan mengawasi dan menutup mesjid-mesjid di AS. Janji lainnya: akan membuat database semua orang Islam yang tinggal di AS. Janji-janji aneh.

Baca juga : Dari Jember Turun Ke Sawah (Kasus e-KTP)

Kontroversial. Tapi dia menang. Jauh sebelum Trump, orang harus mengingat Ferdinand Lop. Politisi Prancis ini adalah dewanya janji kampanye “aneh-aneh”. Dia pertama kali mengajukan diri sebagai kandidat untuk pilpres Perancis pada tahun 1938. Sampai akhir 40-an dia terus mencalonkan diri. Dan…, tak pernah menang! Kendati demikian, Lop terus berlari. Tak pata semangat. Pendukungnya: para mahasiswa di Paris. Nama kelompoknya: Front Popular.

Dia serius. Sangat satiris. Inti dari kampanye tahunannya adalah program reformasi yang disebutnya “Lopeotherapy.” Janjinya, antara lain: Penghapusan kemiskinan, setelah jam 10 malam (apa urusannya?). Dia juga berjanji akan merelokasi Paris ke pedesaan, sehingga penduduknya bisa menikmati udara segar.

Baca juga : Jembatan Di Papua

Ada pula janji untuk melakukan nasionalisasi rumah bordil, sehingga pemerintah punya pendapatan dan tak perlu pajak tinggi-tinggi yang membebani rakyat. Para PSK tersebut diberi status PNS. Gajinya, standar PNS. Dia juga merencanakan pembangunan jembatan selebar 300 meter. Untuk apa? Untuk menampung para gelandangan. Janji lainnya: pemasangan trotoar bergerak untuk memudahkan para pengembara.

Dia juga berjanji akan mengurangi kehamilan dari sembilan hingga tujuh bulan. Untuk kabinet, dia ingin membentuk Kementerian Kesehatan, Tembakau, Kementerian Seks dan Cerita Rakyat. Lop meninggal pada 1974 di usia 83 tahun. Penyebabnya: bukan karena dia memotong kuping atau memotong anggota badannya sendiri. Sampai dia meninggal, kupingnya utuh. Masih dua.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.