Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Tahun depan, 85 juta lapangan pekerjaan akan hilang. Penyebabnya, antara lain, hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Otomatisasi di berbagai sektor, juga menjadi penyebab.
Informasi tersebut disampaikan Presiden Jokowi dalam pembukaan Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dan Seminar Nasional 2024 di Surakarta, Jateng, Kamis (19/9/2024).
Sebenarnya, kondisi ini sudah lama terjadi. Penyebabnya bukan hanya karena AI. Banyak.
Informasi ini, kalau dikaitkan dengan “keindahan” bonus demografi yang dimiliki Indonesia, tentu menjadi fakta yang kurang menggembirakan.
Baca juga : Parpol Jangan Mudah Rapuh
Bonus demografi, istilah yang sering kita dengar beberapa tahun terakhir, kerap disebut sebagai berkah besar buat Indonesia. Jadi pemicu pertumbuhan ekonomi.
Bonus demografi terjadi ketika jum lah penduduk usia produktif (1564 tahun) akan lebih besar dibanding usia nonproduktif (65 tahun ke atas). Proporsinya lebih dari 60 persen dari total penduduk Indonesia.
Beberapa tahun ini, para pejabat, termasuk para menteri, selalu menga takan, “peluang ini harus kita manfaatkan. Kita perlu melakukan perencanaan yang matang menghadapi momentum yang datang hanya sekali dalam perjalanan sebuah bangsa”.
Sayangnya, sejauh ini, belum ada peluang yang benar-benar menghasilkan. Belum ada yang memanfaatkan momentum ini dengan sangat efektif. Masih butuh perjuangan keras. Karena, bonus demografi tidak hanya sekadar “kita akan...”.
Baca juga : Wajah KPK Mulai Digambar
Yang terpenting tentu saja solusinya. Langkah konkretnya. Bukan sekadar pernyataan bahwa “kita harus memanfaatkan peluang dan momentum”.
Apa yang disampaikan Presiden Jokowi di ujung masa jabatannya ini, bisa disebut sebagai “titipan” yang perlu menjadi perhatian serius pemerintahan Prabowo-Gibran.
Karena itu, diperlukan menteri-menteri yang cakap untuk menyelesaikan persoalan ini. Bukan menteri yang membagi perhatian serta kewajibannya dengan kepentingan pribadi, kelompok atau partai politik.
Kita menyambut baik rencana pemerintahan Prabowo membentuk “zaken kabinet” yang berisikan para ahli di bidangnya masing-masing. Zaken kabinet tidak mentolerir dalih bahwa “kader partai politik juga banyak yang ahli”.
Baca juga : Heboh Timnas Naturalisasi
Bonus demografi, UU Cipta Kerja yang sudah berusia empat tahun dan sempat bikin heboh, harus segera membawa dampak positif dan konkret.
Selain itu, hilangnya 85 juta lapangan kerja seperti yang disampaikan Presiden, dan ancaman PHK yang terus menghantui, serta banyak persoalan serius lainnya, tentu saja membutuhkan kabinet yang sangat serius, efektif, kompeten, ahli serta fokus.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 8, edisi Minggu, 22 September 2024 dengan judul "Titipan” Yang Butuh Keseriusan"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.