Dewan Pers

Dark/Light Mode

Dua Sikap

Kamis, 31 Januari 2019 07:56 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Saddiq viral lagi di Indonesia. Menjelang Asian Games di Jakarta, Agustus tahun lalu, dia menarik perhatian karena di usia 26 sudah jadi Menpora Malaysia. Muda banget. Pintar pula. Saat itu, Saddiq diajak Presiden Jokowi keliling-keliling meninjau beberapa venue Asian Games.

Jokowi memanggilnya “bro”. Keduanya selfie dan ngevlog. Heboh. Banyak yang mengajaknya foto bareng. Sejak itu dia popular di Indonesia. Sekarang Syed Saddiq kembali menarik perhatian. Dalam acara Hardtalk di BBC, pekan lalu, Saddiq mampu menjawab lugas, tegas dan mematahkan pewawancara BBC yang mencecarnya dengan rangkaian pertanyaan.

Berita Terkait : Oh, Venezuela

Topiknya tentang pencoretan Malaysia sebagai tuan rumah kejuaraan dunia renang atlet difabel. Pencoretan dilakukan karena Malaysia menolak atlet Israel. “Malaysia akan kehilangan kesadaran moral dan kompas moral jika menilai bahwa kejuaraan olahraga internasional lebih penting dibanding menjaga kepentingan saudara-saudari kami di Palestina yang diperlakukan tidak manusiawi dari waktu ke waktu oleh Israel,” kata Saddiq.

Walau berat, Saddiq membuatnya ringan. Publik Malaysia kemudian memplesetkan acara hardtalk itu menjadi “easytalk” saking mudahnya Saddiq berargumentasi. Saddik naik daun. Rakyat Malaysia menyebutnya sebagai calon perdana menteri masa depan.

Berita Terkait : Februari, Nol ?

Ada juga yang menyebutnya sebagai “Mahathir kecil”. Wawancara Saddiq dengan BBC itu jadi viral di Indonesia. Kenapa viral? Pertama, mungkin karena dia masih muda. Jago debat. Pintar pula. Kedua, karena dia berani bersikap. Dia membela keputusan dan sikap negaranya soal Palestina dan Israel.

Ketiga, diam-diam, Indonesia merindukan tampilnya politisi muda andal. Bukan lagi politisi yang itu-itu saja, atau “lu lagi-lu lagi”. Selain Saddiq, pekan ini Malaysia juga menarik perhatian karena berani membatalkan investasi China senilai Rp 281 triliun!

Berita Terkait : Menanti Ahok

Keputusan pembatalan proyek kereta cepat itu diambil pemerintah Mahathir melalui rapat kabinet. Pembatalan dilakukan setelah berbagai usaha Malaysia untuk menekan biaya, tidak mencapai kesepakatan. Proyek itu ditandatangani di era Perdana Menteri sebelumnya, Najib Razak.

Sekarang Najib tengah menghadapi kasus hukum karena terlilit kasus korupsi. Malaysia menilai, kereta itu belum perlu-perlu amat. Lagi pula, biayanya besar. Bunganya sangat tinggi. “Kami tidak mampu membayar bunganya. Kami bisa miskin kalau meneruskan proyek tersebut,” kata Mahathir. Saddiq, Mahathir, keduanya punya benang merah: keberanian bersikap.