Dark/Light Mode

Keadilan yang Terasa

Rabu, 17 Juni 2026 08:21 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Negara modern dibangun di atas aturan. Prosedur dibuat, mekanisme disusun, dan hukum ditegakkan agar setiap orang diperlakukan secara setara. Dari sudut pandang institusi, keadilan sering dipahami sebagai kepatuhan terhadap prosedur. Namun dari sudut pandang rakyat, pertanyaannya lebih sederhana: apakah itu terasa adil?

Di sinilah sering muncul jarak antara keadilan formal dan keadilan yang dirasakan. Sebuah keputusan bisa sah secara hukum, tetapi tetap menimbulkan rasa ketidakadilan. Sebuah proses bisa berjalan sesuai aturan, tetapi meninggalkan kesan bahwa suara warga tidak sungguh-sungguh diperhitungkan. Dalam kehidupan sehari-hari, persepsi ini sering lebih menentukan daripada penjelasan legal yang panjang.

Baca juga : Bahasa yang Jujur

Masalahnya, institusi publik kerap terlalu fokus pada hasil administratif. Selama prosedur dipenuhi, keputusan dianggap selesai. Padahal bagi masyarakat, pengalaman selama proses berlangsung sama pentingnya dengan hasil akhirnya. Cara negara mendengar, menjelaskan, dan memperlakukan warga menjadi bagian dari makna keadilan itu sendiri.

Kita melihat gejala ini dalam berbagai bidang. Warga yang berhadapan dengan birokrasi tidak hanya menilai apakah permohonannya diterima atau ditolak. Mereka juga menilai apakah mereka diperlakukan dengan hormat. Dalam konflik sosial, masyarakat tidak hanya melihat siapa yang menang, tetapi apakah prosesnya berlangsung secara terbuka dan jujur.

Baca juga : Bekerja untuk Siapa

Ketika rasa adil hilang, legitimasi institusi ikut melemah. Negara mungkin tetap memiliki kewenangan formal, tetapi kehilangan kepercayaan sosial. Akibatnya, kepatuhan menjadi semakin bergantung pada paksaan aturan, bukan pada keyakinan bahwa aturan itu memang layak dihormati.

Tom R. Tyler dalam Why People Obey the Law (1990) menunjukkan bahwa kepatuhan publik lebih banyak ditentukan oleh persepsi keadilan prosedural daripada ancaman hukuman. Orang cenderung menerima keputusan yang tidak menguntungkan sekalipun apabila mereka merasa prosesnya adil, transparan, dan menghormati martabat mereka.

Baca juga : Rakyat yang Menunggu

Yang dicari rakyat pada akhirnya bukan sekadar prosedur, tetapi rasa adil. Mereka ingin melihat bahwa negara tidak hanya menjalankan aturan, tetapi juga memahami manusia yang berada di balik aturan itu. Karena keadilan yang sejati tidak berhenti pada dokumen dan keputusan. Ia harus hadir dalam pengalaman hidup warga sehari-hari.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.