Dewan Pers

Dark/Light Mode

Harum Luar Dalam

Rabu, 21 Oktober 2020 05:01 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi bukan presiden Indonesia pertama yang namanya dikenang dan diabadikan bangsa dan negara lain. Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto sudah lebih dulu namanya diabadikan negara-negara sahabat. Jadi, bukan keistimewaan. 

Penamaan jalan di sebuah negara, dengan nama seorang pemimpin bangsa, sesuatu yang lazim terjadi. Hal ini, merupakan seni diplomasi dan bagian dari politik luar negeri, menyenangkan negara sahabat. Tentu, semua sarat makna dan sangat politis. 

Berita Terkait : KPK, Mobil Dinas, Dan Krisis Kepercayaan

Langkah di atas, juga merupakan upaya untuk mempererat hubungan diplomatik antar negara dan hubungan persahabatan antara dua bangsa. Hal tersebut, juga sebagai bentuk thank you, atas kerja sama perdagangan dan proyek pembangunan di masing-masing negara. 

Jika seorang presiden mendapatkan penghargaan tersebut dalam jumlah banyak, berarti politik luar negerinya berjalan dengan keren. Hal itu, juga menjadi indikator prestasi bagi menteri luar negeri dan para diplomat Indonesia. Ini menunjukkan mereka bekerja dengan baik dan melakukan yang terbaik. 

Berita Terkait : Di Balik Demo Omnibus Law

Namun, perlakuan dan penghormatan negara lain terhadap seorang presiden, harus diseimbangkan dengan prestasi dalam negeri. Jangan sampai, presiden hanya fokus memberi kemanfaatan kepada negara lain dan hanya mengharumkan nama Indonesia di mata negara lain saja, tapi, di dalam negeri miskin prestasi. Karena kemiskinan prestasi ini, rakyat hanya punya pilihan mencaci dan demonstrasi. Mohon maaf, rakyat tidak punya bahan untuk memuji. 

Di periode kedua pemerintahan ini, Presiden Jokowi sesungguhnya tidak punya opsi lain kecuali membangun legacy yang baik untuk rakyat. Karena tidak punya kepentingan maju lagi, Presiden Jokowi sejatinya harus totalitas menomorsatukan kepentingan rakyat di atas segala-galanya. Lupakan bandar dan cukong-cukong politik yang hanya mengganggu komitmen dan program untuk rakyat. Presiden hanya punya pilihan untuk membuat kebijakan yang berdampak luas pada kesejahteraan rakyat banyak dan bukan segelintir konglomerat. 

Berita Terkait : Leader Banyak Haters

Tugas Jokowi sekarang, menjaga nama baik dengan melakukan amal baik. Karena menjaga nama baik saja belum tentu punya nama baik. Menjaga amal baik pasti punya nama baik. Itulah butir nasehat dari Guru Sufi Agung dari Priangan Timur, Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul. Sekali lagi, jaga amal baik untuk rakyat, dan jangan suka pencitraan untuk sekedar menjaga nama baik.