Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam konteks pragmatisme politik, apalagi menggunakan kacamata kaum Machiavelis, merebut kekuasaan itu apapun caranya sah-sah saja. Namun, dari sisi moral serta etika politik, cara merebut atau memperebutkan kekuasaan itu menjadi tolok ukur peradaban. Maksudnya?
Baca juga : Keteladanan Membenci Produk Asing
Semakin mengabaikan cara-cara yang bersih dan santun maka tanda rendahnya kualitas peradaban sebuah tatanan masyarakat. Perbiadaban serta kebiadaban menjadi warna yang menghiasi kehidupan di setiap peralihan kekuasaan. Nggak ada akhlak, begitu ungkapan anak-anak zaman now.
Baca juga : Virus Inggris, Apa Lagi?
Sebaliknya, semakin menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah mufakat, dialog, sinergi dan kolaborasi dalam tradisi kepemimpinan dan menentukan siapa pemimpin maka ciri luhurnya level peradaban. Akhlak menjadi basis moral kekuasaan. Inilah yang sejatinya menjadi landasan etika politik bangsa ini.
Kita tidak mau menyaksikan kesemena-menaan dalam praktek perebutan maupun dalam manajemen kepemimpinan. Dalam ungkapan yang masyhur, Presiden Soeharto sering menyampaikan prinsip etika politiknya, mikul duwur mendem jero. Ini sungguh dalam sekali.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.