BREAKING NEWS
 

83 Persen Nakes Alami Burn Out

Masyarakat Please Jangan Ndableg

Reporter & Editor :
APRIANTO
Rabu, 13 Januari 2021 12:50 WIB
Anggota Perdoki Dewi Soemarko saat diskusi virtual di Graha BNPB, Jakarta. (Foto: Humas BNPB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebanyak 83 persen tenaga kesehatan mengalami burn out dalam pandemi Covid-19. Mereka kewalahan menangani pasien-pasien Corona yang terus bertambah. Kasihani mereka dong. Ayo, please dong patuhi protokol kesehatan!

Burn out merupakan situasi lelah mental dan fisik akibat stres berkepanjangan. Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Okupasi Indonesia (Perdoki), Dewi Soemarko mengungkapkan, 83 persen tenaga kesehatan itu berada dalam keadaan burn out tingkat sedang.

Data tersebut berdasarkan hasil riset pada Agustus 2020. Riset dilakukan secara daring terhadap 1.400 responden yang merupakan dokter, dokter spesialis, perawat, bidan, dokter gigi, hingga farmasi.

“Kalau tingkat sedang itu sebenarnya orang sudah bilang ini warning,” ungkapnya, dalam diskusi virtual di Graha BNPB, Jakarta, kemarin.

Baca juga : Saat Masyarakat Bosan Dan Abaikan Protokol Kesehatan

Sementara mayoritas tenaga kesehatan yang mengalami burn out merupakan dokter umum. Mereka mengalami keletihan emosi karena banyak masyarakat yang masih abai terhadap protokol kesehatan. Akibatnya, jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 terus naik.

Data yang diperoleh Satgas Covid-19 menunjukkan, sejak pekan ketiga September hingga pekan keempat Desember 2020, persentase kepatuhan memakai masker menurun 28 persen, kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan menurun 20,6 persen.

Adsense

Penurunan tersebut berkontribusi terhadap kenaikan kasus positif pada Oktober-Desember 2020 sebesar 113 persen.

“Mentalnya capek banget. Kasarnya, kalau nyuruh orang ini ndableg, jadi hatinya capek. Itu dialami tenaga-tenaga kesehatan kita,” tambah Dewi.

Baca juga : Selamatkan Jutaan Suara, PSI Usul Kembali Ke Aturan Lama

Tak hanya mental, tenaga kesehatan juga mengalami gangguan percaya diri. Ini kondisi yang berbahaya. Dewi menyebut, mereka butuh pertolongan.

“Bahayanya kenapa? Karena tenaga kesehatan harus eksekutor, harus percaya diri. Kalau mereka mulai ragu, itu sebenarnya perlu ditolong,” tutur Ketua Prodi Magister Kedokteran Kerja/Pengajar Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu. Dewi pun meminta masyarakat untuk terus menerapkan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19 ini. Dia tahu, masyarakat merasa jenuh, melakukan aktivitas dalam keterbatasan, akibat kondisi pandemi yang berlarut-larut.

Padahal, masyarakat tidak boleh lupa, menerapkan protokol kesehatan bukan cuma untuk diri sendiri. Tapi juga untuk menjaga kesehatan orang lain. Terutama untuk keluarga dan orang-orang terdekat. Dan tentu, untuk tenaga kesehatan juga.

Dewi mendorong masyarakat untuk tetap bersemangat dan saling mengingatkan tentang perlunya berdisiplin menjalankan protokol 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan. Perjuangan masih panjang.

Baca juga : Revisi Otsus Diyakini Bisa Sejahterakan Masyarakat Papua

“Yang penting itu sebenarnya mari kita sadari diri sendiri, saling menyemangati dan saling mengingatkan,” tutupnya. [DIR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense