Dark/Light Mode

Pandemic Fatigue

Saat Masyarakat Bosan Dan Abaikan Protokol Kesehatan

Selasa, 12 Januari 2021 10:45 WIB
Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, Natalia Widiasih. (Foto: Humas BNPB)
Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, Natalia Widiasih. (Foto: Humas BNPB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tingginya angka positif Covid-19 dan tingkat kematian, salah satunya diakibatkan abainya masyarakat terhadap protokol kesehatan (prokes). Kondisi ini terjadi karena masyarakat mulai bosan dengan pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir. Kalau dibiarkan, bisa bahaya lho!

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, Natalia Widiasih mengatakan, kondisi seperti itu disebut sebagai pandemic fatigue. Kebosanan terhadap pandemi memicu terjadinya ketidakpatuhan dan demotivasi.

Berdasarkan pernyataan Badan Kesehatan Dunia (WHO), Natalia menyebut, kelelahan terhadap pandemi merupakan hal yang wajar dan manusiawi. Namun bila dibiarkan terus menerus, bisa menimbulkan dampak besar, yakni peningkatan kasus positif Corona dan angka kematian yang signifikan.

Berita Terkait : Positivity Rate Hari Ini Cetak Rekor Dengan Angka 30,37 Persen

Natalia menyebut, pandemic fatigue bisa dihindari dan disembuhkan dengan beberapa cara sederhana. Langkah pertama adalah dengan mengetahui gejalanya. Menurutnya, perlu dikenali dulu, apakah ada tanda-tanda kelelahan. Ini bisa dilihat dari tingkat emosi seseorang.

“Apakah mudah sensitif, mudah marah, kita menjadi apatis dan lain sebagainya,” ujar Natalia, dalam diskusi virtual bertema “Pandemic Fatigue, Jangan Pernah Menyerah”, di Graha BNPB, Jakarta, kemarin.

Begitu muncul gejala-gejala tersebut, ia menganjurkan untuk langsung beristirahat. Jangan melakukan kegiatan apapun. Cara paling sederhana dan ampuh adalah tidur.

Berita Terkait : Aturan Perjalanan Jawa-Bali Diterbitkan

Namun cara itu tak ampuh untuk semua orang. Orang yang berada dalam kondisi fight (melawan) atau fight (menghindar), biasanya akan kesulitan tidur atau beristirahat. Natalia menyarankan untuk mempelajari teknik relaksasi.

Tipe relaksasi orang pun beda-beda. Ada yang rileks dengan yoga. Tapi ada juga yang harus menyalurkan energinya dengan melakukan kegiatan seperti Thai Boxing atau nonton film horror. “Intinya, temukan cara supaya kita bisa rileks,” tambahnya.

Natalia juga menyarankan masyarakat untuk mulai mempelajari kebutuhan dan perilaku orang-orang di sekitarnya, seperti rekan kerja atau anggota keluarga. Ketua Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) itu menambahkan, dengan mempelajari kebutuhan orang-orang terdekat, kita bisa berkomunikasi dengan cara yang benar.

Berita Terkait : Keteladanan Pemimpin Bisa Jadi Obat Mujarab

“Sekarang ini kita harus benar-benar aware dengan orang-orang di sekitar agar bisa saling support. Sehingga mereka merasa masih dilibatkan, karena pada dasarnya manusia itu makhluk sosial,” ujarnya.

Bila tak bisa bertemu langsung, komunikasi masih bisa dilakukan secara online. Kita bisa mengirimkan pesan teks kepada orang yang dirindukan misalnya teman, keluarga, atau pasangan. Kalau pesan teks saja belum cukup, bisa menelepon atau melakukan video call. “Melihat wajahnya bisa mengurangi rasa kangen,” ucapnya.

Yang di kantor, juga dapat melakukan social bubble. Yakni mendeteksi orang-orang dekat dan kelompok-kelompok di kantor untuk memastikan keamanan dan kesehatannya. [DIR]