Sebelumnya
Sebagian dari uang tersebut, kemudian digunakan untuk membeli pembangkit listrik di atas harga pasar. Sebagian besar sisa dana tersebut, menguap begitu saja setelah diinvestasikan dalam proyek-proyek minyak dan gas yang meragukan di Timur Tengah.
Sejumlah uang kemudian dipindahkan melalui bank-bank di Karibia, di Seychelles dan Singapura.
Entah bagaimana, sejumlah besar uang berakhir di rekening Najib di AmBank. Kemudian, Najib mengklaim bahwa miliaran plus di rekening banknya adalah hadiah dari royalti Saudi.
"Klaim ini dapat diverifikasi. Tapi, sedikit usaha yang dilakukan untuk melacak pergerakan uang," ucap Mahathir.
Baca juga : Kejaksaan Agung Periksa Empat Pejabat Kemendag
Uang dalam jumlah besar, tidak mudah dipindahkan. Uang tunai, tidak praktis untuk memindahkannya. Itu harus dalam bentuk dokumen. Seperti cek atau transfer elektronik. Harus ada catatan yang dipegang oleh bank, yang menerbitkan atau menerima dokumen.
Mahathir menyebut, bank penerbit dan bank penerima pasti punya catatan. Bank juga harus mencatat, bagaimana uang itu sampai di bank, deposan atau deposan, dan bagaimana uang itu diperoleh.
"Jika penyelidik peduli, mereka dapat melacak pergerakan uang. Buktikan apakah itu benar hadiah. Tapi, sampai saat ini, tidak ada bukti bahwa pemerintah telah melakukan penyelidikan menyeluruh," ujar Mahathir.
"Orang-orang Saudi mungkin kaya dan dermawan. Tapi, mereka tidak akan memberi hadiah uang yang begitu besar kepada seorang pemimpin asing, atas perannya dalam membantu orang-orang Palestina," sambungnya.
Baca juga : Komisi III DPR Puji Polda NTB, Harap Masyarakat Tak Takut Lawan Kejahatan
Mahathir juga menyoroti fakta adanya uang dan barang-barang mahal yang ditemukan di paviliun Najib.
Awalnya, polisi mengklaim uang dan barang-barang tersebut dibeli dengan uang dari 1MDB.
Belakangan dikatakan, pemerintah tidak dapat membuktikan bahwa uang dan pembelian barang-barang mewah itu adalah uang yang dicuri dari pemerintah. Terutama dari 1MDB.
Hingga akhirnya diputuskan, uang dan hadiah itu dikembalikan kepada Najib. Karena itu adalah hadiah untuknya.
Baca juga : Sudirman Said: Korupsi Itu Soal Perilaku, Membereskannya Tak Cukup Dengan Hukum
"Penyelidikan terhadap sumber uang itu tidak menyeluruh. Kemungkinan besar, itu bukan hadiah. Bayangkan, Raja Saudi memberikan begitu banyak tas mewah kepada Rosmah. Tidak ada dokumen yang bisa membuktikan ini. Tapi, toko perhiasan di New York mengklaim mereka menjual perhiasan ke Rosmah. Apakah otoritas Malaysia menyelidiki ini?" papar Mahathir.
Jika Najib tidak dapat membuktikan bahwa hadiah itu adalah hadiah, pemerintah semestinya tidak boleh memberikan uang dan hadiah itu kepada Najib.
"Bukti bahwa ini adalah hadiah tidak memadai. Pemerintah harus menahan uang dan hadiah, sampai terbukti sumbernya. Saat ini, tidak ada yang tahu ke mana sisa 42 miliar ringgit itu pergi. Diduga Jho Low yang mengambil uang itu. Jho Low dituding, karena dia tidak bisa dihubungi. Tak mungkin menyelidiki dia," pungkas Mahathir, yang akan berusia 97 pada 10 Juli mendatang. [HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.