BREAKING NEWS
 

Teomorfisme Al-Quran (2)

Senin, 29 Juli 2024 05:44 WIB
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Yang dimaksud kata ‘ber­getarlah hati mereka’ (wajilat qulubuhum) dalam ayat di atas ialah identifikasi paling men­dalam di dalam hati akan keberadaan wahyu suci di dalam batin. Jika feeling itu sudah hadir maka seseorang bukan lagi memiliki kemampuan mema­hami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi ayat-ayat Al-Qur’an sudah mampu menaf­sirkan diri yang bersangkutan.

Dengan demikian, Al-Qur’an dan manusia saling menafsirkan satu sama lain (Al-Qur’an yufassiru ba’dhuhum liba’dh). Tidak heran jika ada orang sama sekali tidak memahami bahasa Arab, apa­lagi memenuhi 13 syarat formal seorang mufassir sebagaimana dinyatakan oleh ulama tafsir.

Baca juga : Teomorfisme Al-Quran (1)

Mungkin orang belum ma­suk kategori mufassir tetapi sudah mampu menjadi mufah­him Al-Qur’an. Bedanya ialah, mufassir memiliki otoritas dan legitimasi khusus sehingga bisa menjadi hujjah bagi orang lain.

Sedangkan mufahhim kurang memiliki otoritas dan legitimasi, dan dibatasi hanya menjadi kon­sumsi untuk dirinya sendiri atau di lingkungan murid-murid khususnya. Meskipun antara keduanya berbeda tetapi tidak bisa dilegitiimasi bahwa temuan mufassir otomatis lebih shahih dan valid daripada temuan mu­fahhim.

Baca juga : Al-Quran Dan Antropomorfisme

Mungkin hanya mufah­him tetapi ia memiliki kemam­puan ilmu khusus dari Tuhan (Divine knowledge). Sebaliknya mungkin mufassir tetapi hanya di dalam batas cognitive (know­ing and understanding) tetapi belum masuk di dalam kategori realizing (Iqra’ ketiga).

Adsense

Di antara kesulitan merasakan kehadiran wahyu di dalam kalbu karena belum jelasnya apa yang dimaksud wahyu. Kita sebagai bangsa Indonesia yang be­lum semuanya bisa menangkap dzauq al-lugah nahasa Arab, belum bisa merasakan makna semantik kata wahyu, karena kita tidak memiliki kosa kata yang sepadan dengan wahyu.

Baca juga : Membiasakan Istiqamah

Kita terpakas mengindonesiakan kata wahyu itu sebagai inspirasi cerdas dari Tuhan yang diper­untukkan kepada Nabi. Inspi­rasi cerdas yang durun kepada manusia non-nabi hanya bisa mengakses ilham ata ta’lim.

Dengan demikian, makna wa­hyu menjadi identik dengan Al-Kitab atau al-Qur’an. Padahal, ketiga istilah ini di samping mempunyai persamaan juga mempunyai perbedaan. Semua ayat-ayat dalam Al-Qur’an dan atau al-Kitab (Taurat, Injil, Za­bur, dan Al-Qur’an) adalah wa­hyu namun tidak semua wahyu adalah Al-Qur’an atau Al-Kitab).
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense