Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Kebijakan Presiden Donald Trump membentuk Dewan Perdamaian Gaza menciptakan kekhawatiran dan kegaduhan baru. Keputusan Trump tersebut justru menciptakan ketidakpastian bagi masa depan rakyat Palestina. Hal ini terlihat tidak dimasukkannya Palestina sebagai pihak yang terlibat dalam proses perdamaian Gaza.
KTT Davos merupakan forum bergengsi yang dihadiri para pemimpin negara, pelaku usaha dan tokoh dunia untuk membahas isu strategis perekonomian global. Namun sayang pertemuan saat ini didominasi adanya perbedaan kepentingan negara adidaya. Sehingga memicu ketidakpastian dan volatilitas geopolitik.
“Prospek ekonomi dunia semakin suram, Mo. Risikonya tidak terukur lagi,” celetuk Petruk sok tahu. Romo Semar memilih diam tidak serta merta mau menanggapi komentar Petruk. Romo Semar prihatin dengan cuaca ekstrem yang masih berlangsung di berbagai wilayah Nusantara. Mitigasi bencana khususnya banjir bandang harus segera dilakukan. Hal ini untuk mencegah jatuhnya banyak korban jiwa.
Baca juga : Perebutan Wilayah Otonom Tunggorono
Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Ubi bakar dan pisang rebus menambah nikmat sarapan pagi Padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Prabu Duryudana menggagas perdamaian dengan Pandawa.
Kocap kacarito, Prabu Duryudana sebagai raja Hastina khawatir dengan jangkaning dewata perang Baratayuda. Yaitu perang saudara antara Pandawa dan Kurawa untuk memperebutkan tahta Kerajaan Hastina. Berbagai usulan untuk mencegah terjadinya perang antar trah Abiyasa sudah ditempuh. Namun selalu gagal dan tidak tercapai perdamaian.
Duryudana tahu persis kekuatan Pandawa. Duryudana dan Kurawa tidak akan sanggup melawan kesaktian Pandawa. Di sisi lain, Duryudana tidak mau menyerahkan begitu saja separuh tahta Kerajaan Hastina kepada Pandawa. Padahal Pandawa berhak atas tahta Hastina yang merupakan peninggalan orang tuanya yakni Prabu Pandu.
Baca juga : Jarasanda Merusak Tatanan Dunia
Duryudana minta bantuan Begawan Kilat Buana untuk mencari solusi damai dengan Pandawa. Kilat Buana menyanggupi permintaan Duryudana, tapi dengan syarat pamong Pandawa yakni Semar dan Kresna harus disingkirkan. Karena, keberadaan Semar dan Kresna sebagai penghalang proses perdamaian Kurawa dan Pandawa.
Duryudana sanggup membunuh Semar dan Kresna untuk tercapainya solusi damai Amarta dan Hastina. Patih Sengkuni mendapat tugas mencari keberadaan Semar dan Kresna. Pasukan Hastina dibantu Kilat Buana berangkat ke Dwarawati dan Padepokan Klamis Ireng untuk membunuh pamong Pandawa.
Namun di tengah jalan, pasukan Hastina dihadang Gatotkaca dan Antareja. Rupanya Semar dan Kresna sudah tahu bahwa dirinya menjadi sasaran fitnah Kurawa dan Kilat Buana. Semar dan Kresna minta keadilan kepada Shang Hyang Wenang atas perilaku sewenang-wenang Kurawa. Sebagai pamong Pandawa, tidak semestinya Semar dan Kresna dijadikan tumbal perang Baratayuda.
Baca juga : Gaduh Sabotase Jembatan Situbondo
“Hubungannya apa pakta perdamaian Gaza dengan Hastina, Mo?" sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Keduanya sama-sama memiliki kepentingan terselubung, Tole,” jawab Romo Semar pendek. "Trump ingin mengontrol Timur Tengah dengan membentuk dewan perdamaian Gaza. Sama halnya dengan Duryudana berkoalisi dengan Kilat Buana untuk mencaplok Hastina dan Amarta," papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.