Dark/Light Mode

Gaduh Sabotase Jembatan Situbondo

Senin, 5 Januari 2026 08:29 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo merayakan pergantian tahun baru bersama warga terdampak bencana di Tapanuli Sumatera Utara. Momen malam tahun baru diwarnai penuh rasa haru dan keceriaan. Kehadiran Prabowo menunjukkan kepedulian seorang pemimpin dengan rakyatnya. Prabowo memberi kado tahun baru dengan memperbolehkan terima bantuan dari pihak mana pun.

Bantuan dalam rangka visi kemanusiaan sebetulnya sah-sah saja. Asal dapat dipertanggung jawabkan, transparan, dan akuntabel. Kalau perlu dibuat satu badan khusus independen untuk mengurusi Multi Donor Trust Fund (MDTF). Bantuan asing dalam bentuk pinjaman lunak maupun donor dapat melalui Trust Fund. Selain itu bantuan pihak swasta dan masyarakat dapat disalurkan melalui MDTF. Sehingga pemanfaatan dana terukur dan transparan.

“Jangan sampai ada sabotase, Mo," celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar mesem tidak serta merta mau menanggapi komentar Petruk. Semar tahu persis ke mana arah sabotase yang dimaksud. Romo Semar sedang galau dengan kegaduhan yang terjadi akhir-akhir ini. Gaduh masalah sepele karena tidak ada perencanaan dan koordinasi yang baik di lapangan.

Baca juga : Keteladanan Ki Ageng Pandanaran

Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Pisang rebus dan jadah bakar tidak ketinggalan sebagai menu sarapan pagi Padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Ramayana. Di mana, terjadi kegaduhan sabotase dalam pembangunan jembatan Situbondo.

Kocap kacarito, Prabu Rama dapat informasi kalau istrinya yakni Dewi Sinta diculik Prabu Rahwana dari kerajaan Alengka. Untuk itu, dia mengumpulkan panglima perang dan senopati untuk mengatur strategi menyerang Alengka. Perang terbuka antara kerajaan Pancawati dan Alengka tidak dapat dihindari lagi.

Pasukan Pancawati terhalang lautan untuk dapat menyerang Alengka. Prabu Rama harus membuat jembatan yang menghubungkan Pancawati dan Alengka. Sehingga pasukan Rama dapat mencapai tapal batas kerajaan Alengka.

Baca juga : Berharap Kepada Bandung Bondowongso

Bagi Prabu Rama membangun jembatan penyeberangan bukan pekerjaan mudah walaupun Rama memiliki ribuan pasukan berwujud rewanda atau kera. Atas saran Hyang Baruna dewanya laut, Rama diperbolehkan membangun jembatan dengan jalan menambak samudera.

Rama menugaskan Panglima Sugriwa untuk membangun jembatan Situbondo. Secara filosofi Situbondo memiliki arti ketulusan dalam perjuangan. Sugriwo dibantu wadya bala wanara siang malam mengumpulkan batu untuk menambak samudera. Namun setiap selesai membangun jembatan, langsung roboh dan ambrol.

Sugriwo curiga ada sabotase dalam pembangunan jembatan Situbondo. Ada pihak lawan yang tidak ingin jembatan berhasil dibangun. Senopati Hanoman tanggap dengan kekhawatiran Sugriwo. Maka tanpa membuang waktu, Hanoman masuk ke dalam samudera memburu pelaku sabotase.

Baca juga : Semar Mitigasi Bencana Amarta

“Siapa pelaku sabotase jembatan Situbondo, Mo?" sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Pelakunya Yuyu Rumpung, kaki tangan Rahwana yang bertugas di dasar samudera," jawab Romo Semar pendek. “Sebagai panglima perang, Sugriwo bertanggung jawab atas ucapannya. Sehingga tidak sampai menimbulkan kegaduhan di lapangan," papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.