Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Ketika Adam dan Hawa melakukan pelanggaran di surga dengan memakan buah khuldi yang terlarang, keduanya kemudian diturunkan ke bumi. Tentu saja peristiwa ini sangat menyedihkan bagi Adam dan Hawa. Betapa tidak, di surga mereka menikmati puncak kenikmatan. Mereka tidak perlu memikirkan kehidupan hari esok dan masa depan, karena kekayaan surga tidak akan pernah berkurang. Apa pun yang mereka inginkan langsung terwujud.
Sebaliknya, keadaan di bumi mengharuskan segala sesuatu diusahakan terlebih dahulu sebelum berhasil. Bahkan, ada sejumlah usaha yang tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada lagi mimpi yang selalu menjadi kenyataan. Justru, mimpi buruk di dunia ini sering kali menjadi kenyataan.
Tidak ada lagi sesuatu yang benar-benar gratis. Semuanya memiliki “biaya” yang harus dibayar dalam berbagai bentuk. Di bumi, tawa dan tangis silih berganti; kebahagiaan dan penderitaan datang dan pergi; kekecewaan pun kerap hadir hampir setiap hari. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan perencanaan Tuhan, Allah SWT. Tidak ada satu pun kenyataan yang tanpa hikmah. Bahkan, Al-Qur’an menyatakan bahwa tidak ada ciptaan dan kehendak Tuhan yang sia-sia: “Rabbana ma khalaqta hadza bathilan” (Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, QS Ali ‘Imran/3:191).
Mungkin ada hal yang menurut kita tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan, tetapi di balik itu terdapat hikmah besar bagi kemanusiaan. Karena itu, tidak perlu menyesali kekecewaan secara berlebihan atau meratapi cobaan, sebab di setiap ujian selalu ada peluang untuk naik ke tingkat yang lebih baik.
Seandainya Tuhan tidak menurunkan nenek moyang kita, Adam dan Hawa, maka kita tidak akan pernah ada di bumi ini. Mungkin hanya mereka berdua yang hidup selamanya di surga. Surga bukanlah tempat untuk berkembang biak. Sebagai anak cucu Adam dan Hawa, kita patut bersyukur atas peristiwa kejatuhan tersebut. Melalui peristiwa itulah kita menjadi ada. Di bumilah Adam dan Hawa berkembang biak. Memang hidup ini penuh penderitaan, tetapi bukankah Tuhan telah menjanjikan bahwa setiap penderitaan akan berujung pada kebahagiaan?
Andaikata Adam dan Hawa tidak diturunkan ke bumi, apa bedanya manusia dengan malaikat? Sementara itu, Tuhan menghendaki adanya makhluk yang memiliki entitas tersendiri, berbeda dari makhluk lain seperti malaikat, jin, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Perjalanan panjang kehidupan manusia menjadikannya sebagai makhluk yang istimewa (ahsani taqwim).
Melalui pengalaman tersebut, manusia dapat merasakan secara komprehensif nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Manusia tidak hanya memahami sifat-sifat yang menghadirkan kenikmatan, tetapi juga yang menghadirkan kesulitan. Dengan demikian, manusia mampu membandingkan dan merasakan berbagai dimensi kehendak Tuhan.
Tantangan bagi manusia adalah bagaimana menempuh jalan hidup yang mengantarkannya pada kebahagiaan di akhirat sebagai tujuan akhir perjalanan. Manusia juga dituntut untuk menghindari jalan yang membawa pada malapetaka di kehidupan abadi.
Dengan pengalaman panjang hidupnya, manusia seharusnya mampu membedakan kedua jalan tersebut. Tidak hanya itu, Allah juga melengkapi manusia dengan petunjuk berupa Kitab Suci Al-Qur’an sebagai “arah” (directions) untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Baca juga : Silaturahim dengan Rasulullah
Kita patut mensyukuri kisah kejatuhan Adam dan Hawa ke bumi. Peristiwa ini bukan hanya menjadikan kita “ada”, tetapi juga memberi peluang bagi manusia untuk menjadi penikmat kebahagiaan tertinggi kelak, bagi mereka yang mengikuti jalan-Nya.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Kamis, 7 Mei 2026 dengan judul "Memahami Simbol-simbol Haji (3) Makna Kejatuhan Adam-Hawa Ke Bumi"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.