Sebelumnya
Dia mengingatkan, penegakan bukan diukur dari seberapa banyak kasus yang ditemukan. Tetapi pada bagaimana mencegah secara berkelanjutan agar tindak pidana korupsi itu tidak sampai terjadi lagi.
Jokowi kembali mengingatkan, pemberantasan korupsi tidak boleh identik dengan penangkapan. Pencegahan merupakan langkah yang lebih fundamental dalam mencegah terjadinya tindak pidana korupsi. "Membangun kesadaran diri adalah kunci mental antikorupsi,” ucapnya.
Sementara, Ketua KPK Firli Bahuri mengawali sambutannya dengan memberikan apresiasi ke Jokowi yang hadir dalam acara tersebut. Firli menyebut, Jokowi adalah pemimpin orkestra dalam pemberantasan korupsi di Tanah Air.
Baca juga : KPK Bantu Tangkap Buronan Korupsi Pembangunan Pabrik
Selanjutnya, Firli lantas memaparkan 3 strategi KPK dalam upaya pemberantasan korupsi. Yakni, pendidikan masyarakat, pencegahan, dan penindakan. Firli sependapat dengan arahan Jokowi bahwa suksesnya pemberantasan korupsi bukan hanya diukur dari banyaknya orang yang ditangkap dan dipenjarakan. "Tapi, suksesnya pencegahan adalah tidak terjadi lagi tindak pidana korupsi," ucapnya.
Soal penindakan, sepanjang 2021, ada 109 orang yang ditangkap KPK. Soal penyelamatan aset, Firli mengungkapkan, KPK telah mengembalikan aset negara dari uang denda hingga rampasan senilai Rp 2,6 triliun. KPK juga telah melakukan penyelamatan pidana korupsi selama 2021, yakni Rp 46,5 triliun.
Firli memastikan, KPK tak akan lelah memberantas korupsi. "Kita berharap pada suatu saat tidak ada lagi korupsi," ucapnya.
Baca juga : Timnas Bantai Kamboja, Iwan Bule: Jangan Cepat Puas!
Acara ini lalu ditutup Wapres KH Ma'ruf Amin. Dalam pidatonya, Kiai Ma'ruf menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi seluruh instansi dan komponen masyarakat sipil dalam pemberantasan korupsi.
Ma'ruf mengatakan, dampak korupsi begitu besar. Korupsi ibarat karat yang menggerogoti besi-besi pembangunan. Hasil riset para ekonom dari berbagai instansi menyebutkan, pada rentang 2001 hingga 2015, kerugian negara akibat korupsi mencapai lebih dari Rp 200 triliun.
“Dana sebesar itu akan sangat bermanfaat untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan kualitas SDM. Belum lagi kepercayaan pelaku usaha menurun akibat korupsi,” kata Ma'ruf.
Baca juga : HDCI Bantu Korban Erupsi Gunung Semeru
Karena itu, Ma'ruf minta perhatian lebih pada upaya penguatan, optimalisasi, dan internalisasi budaya antikorupsi dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. “Media sosial dalam berbagai platform dapat menjadi media kontrol yang ampuh bagi masyarakat sipil untuk turut serta melakukan pengawasan,” tuturnya. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.