RM.id Rakyat Merdeka - Di saat rakyat miskin teriak-teriak gak bisa bayar SPP, kesulitan bayar biaya kuliah, dan juga minta dapat subsidi kuota internet karena belajar masih via online, eh ada kabar Mendikbud Nadiem Makarim mengeluarkan kebijakan mengecewakan. Mantan bos GoJek yang akrab disapa Mas Menteri ini memberikan dana hibah puluhan miliar untuk organisasi pendidikan milik konglomerat. Mas Nadiem, jadi ini gebrakan yang dinanti-nantikan dari menteri milenial itu?
Nadiem memberikan dana senilai Rp 20 miliar ke Sampoerna Foundation dan Tanoto Foundation. Adanya pemberian hibah ini diungkap Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda. "Sampoerna Foundation maupun Tanoto Foundation masing-masing bisa mendapatkan anggaran hingga Rp 20 miliar untuk menyelenggarakan pelatihan bagi para guru penggerak di lebih 100 sekolah," ujar Syaiful, kemarin.
Dia menjelaskan, Kemendikbud memang punya anggaran sebesar Rp 567 miliar per tahun untuk membiayai program organisasi penggerak. Program ini bertujuan memberikan pelatihan dan pendampingan bagi para guru penggerak untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan peserta didik.
Baca juga : Vakum Di Jagat Hiburan, Manohara Nyaman Jadi Relawan Satwa
Program ini dilakukan dengan melibatkan organisasi masyarakat sebagai pihak yang membuat dan mengelola pelatihan guru. Ormas diseleksi berdasarkan proposal rencana pelatihan yang disodorkan. Jika lolos seleksi, ormas bakal diberi dana yang besarnya sesuai kategori. Kategori gajah diberi dana hingga Rp 20 miliar, kategori macan dengan dana hingga Rp 5 miliar, dan kategori kijang dengan dana hingga Rp 1 miliar.
Berdasarkan data yang diterima Syaiful, ada 156 ormas yang dinyatakan lolos verifikasi dengan 183 proposal jenis kegiatan. Nah, kedua yayasan milik konglomerat tadi termasuk dua dari 156 yang lolos sebagai organisasi penggerak.
Yayasan Putera Sampoerna lolos pada kategori macan dan gajah. Sedangkan Yayasan Bhakti Tanoto lolos pada kategori gajah sebanyak dua kali. Pertama untuk pelatihan guru SMP, kedua untuk guru SD.
Baca juga : Operasi Jantung Aman Saat Pandemi, Ini Syaratnya
Syaiful merasa janggal, kenapa yayasan-yayasan milik perusahaan raksasa itu bisa menerima anggaran dari pemerintah. Padahal, yayasan-yayasan tersebut didirikan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan alias CSR.
"Lah, ini mereka malah menerima dana atau anggaran negara untuk membiayai aktivitas melatih para guru? Logikanya sebagai CSR, yayasan-yayasan perusahaan tersebut bisa memberikan pelatihan guru dengan biaya mandiri," tegas politisi PKB itu.
Salah satu penggagas Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika, Ahmad Rizali, turut mengkritik pemberian dana hibah ke Sampoerna Foundation dan Tanoto Foundation. "APBN tidak pantas dihibahkan kepada organisasi yang didirikan dengan semangat membangun CSR, karena mereka akan memperoleh keringanan pajak dari dana yang disisihkan oleh perusahaan induk," kritik Rizali, kemarin. Ia menyebut, seharusnya Kemendikbud memberikan kesempatan tersebut pada ormas yang benar-benar berkecimpung di dunia pendidikan
Baca juga : Pergerakan Warga Di Masa Lebaran Diduga Jadi Penyebab
Dirjen Tenaga Guru dan Kependidikan Kemendikbud Iwan Syahril mencoba mengklarifikasi. Dia menyatakan, Kemendikbud tidak ikut campur dalam teknis seleksi peserta organisasi penggerak. "Kami melibatkan lembaga independen, yaitu Smeru Research Institute. Penentuan ormas yang lolos dilakukan yang Kemendikbud tidak intervensi," ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.