Sebelumnya
Nur Purba P. juga ikut menyentil. “Udah nggak becus terus kambinghitamin sana-sini... Pakai bilang keterangan dokter soal pasien Covid-19 di RS harus diverifikasi dulu..,” @ piyopikavet.
Dokter spesialis anestesi, Nirwan Satria ikut menyampaikan kekecewaan. Dia berpendapat, dengan melempar tuduhan itu, Moeldoko-Ganjar menebar kebencian dan memprovokasi masyarakat agar membenci rumah sakit, tenaga medis, dan nakes dalam kondisi pandemi ini. “Kalau ada agenda, jalankan saja agendanya tanpa mesti provokasi,” tegasnya.
Baca juga : Trump Kena Covid, Netizen: Stay Positive Mr President!
Tak cuma di dunia maya, di dunia nyata, dokter-dokter lain ikut bicara. Dokter Spesialis Paru di RS Persahabatan, Erlina Burhan, salah satu yang membantah tudingan Moeldoko-Ganjar. “Dokter tidak akan menulis diagnosis Covid-19 kalau tidak ada bukti, buat apa dokter meng-covid-kan pasien?” tuturnya.
Selama ini, kata dia, banyak masyarakat tidak memahami, gejala yang ditimbulkan Covid-19 berbeda-beda, sesuai organ tubuh yang diserang. Virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China ini bisa menyerang organ tubuh selain saluran pernapasan. Misalnya, saluran pencernaan, organ jantung, pembuluh darah, pankreas, dan bahkan otak.
Baca juga : Moeldoko Gigit Gatot
Nah, kurangnya pemahaman masyarakat membuat mereka menuduh para dokter asal diagnosis. “Kadang-kadang pasien datang dengan gejala stroke dan positif Covid-19, lalu keluarga marah-marah ke dokter karena merasa yang dialaminya gejala stroke, padahal infeksi Covid-19 juga,” jelas Ketua Persatuan Dokter Paru Indonesia Jakarta itu. Dia mengimbau masyarakat tidak berburuk sangka kepada para dokter yang memberi diagnosis Covid-19.
Bukan hanya kalangan dokter, protes juga datang dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). Organisasi yang menaungi semua RS di Tanah Air ini menganggap pernyataan Moeldoko-Ganjar, nyakitin. “Mohon maaf, kami sudah lelah. Jika ada bukti dan terbukti, silakan oknum rumah sakit diberi sanksi saja. Mohon jangan sakiti Tenaga Kesehatan dan RS yang sudah melayani pasien dengan segala risiko,” tulis Ketua Kompartemen Public Relations dan Marketing PERSI Anjari Umarjiyanto di akun Twitternya, @anjarisme.
Baca juga : Risiko Kerja Tak Ciutkan Semangat Petugas Sintelis KAI
Anjari prihatin dengan tudingan tersebut. Soalnya, yang dilakukan RS justru merupakan bentuk kepatuhan dalam menerapkan protokol kesehatan penanganan pasien Covid-19 meninggal. “Ini dipersepsikan keliru. Padahal tujuannya mencegah terjadinya penularan dan penyebaran Covid-19,” sesalnya.
Sampai saat ini, PERSI belum mendapatkan informasi RS mana saja yang dituding “nakal” itu. Bagaimana tanggapan Moeldoko usai mendapat protes dari banyak dokter? Rakyat Merdeka mencoba mengontak Kepala KSP itu semalam, namun tak direspons. Begitupun dengan anak buahnya, Donny Gahral Adian. [OKT]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.