RM.id Rakyat Merdeka - Istilah-istilah seperti sayap kanan, sayap kiri, kiri-baru, kanan-jauh dan sejenisnya, terdengar rumit. Terlalu berat. Tapi sepanjang 2018, mungkin juga 2019, istilah-istilah ini akan semakin sering disebut di panggung politik. Ada yang khawatir, ada yang menilainya biasa saja.
Sepak bola juga mengenal istilah sejenis. Ada pemain sayap kanan yang bergerak di sisi kanan lapangan. Atau, sayap kiri yang beroperasi di sisi kiri. Ada pula posisi kiri luar atau kiri dalam. Bek kanan atau bek kiri. Sepanjang 2018, “populis sayap kanan” menjadi primadona. Salah satu aktornya: Jair Bolsonaro. Dia sudah dilantik menjadi Presiden Brasil awal 2019 ini.
Dengan kampanye dan sikap-sikapnya yang kontroversial, Bolsonaro dijuluki “Donald Trump” dari negeri tropis. Duterte di Filipina, atau kemenangan Brexit di Inggris, juga dianggap sebagai salah satu contoh kemenangan kelompok populis sayap kanan.
Baca juga : Mestinya Ada Temuan Hebat
Di Indonesia, dulu, Orde Baru sangat sensitif terhadap istilah-istilah semacam ini. Film komedi “Kanan- Kiri OK” misalnya, awalnya berjudul “Kiri Kanan OK”. Karena pemerintah Orde Baru alergi terhadap istilah “kiri” maka yang didahulukan harus kanan. Jadilah judulnya “Kanan Kiri OK”.
Sekarang, “kanan” mengalami perkembangan pesat. Di Eropa, secara sederhana, ungkapan populis sayap kanan ditujukan kepada politisi, kelompok, atau parpol yang menentang para imigran. Terutama dari Timur Tengah dan Afrika, sebagian besarnya dari negara-negara muslim.
Mereka juga sangat ultra-nasionalis. Anti-globalisasi dan mengusung tema “kamilah yang murni. Kalian pendatang bukan pemilik negeri ini. Kalian justru merepotkan kami. Karena itu, jangan masuk ke negeri kami”.
Atas dasar itulah Donald Trump misalnya, ingin membangun tembok perbatasan antara ASdan Meksiko. Dia juga melarang warga negara dari beberapa negara Timur Tengah menginjak tanah Amerika. “Selamatkan pekerja asli Amerika. Jangan biarkan warga “asli” jadi penganggur. Tarik pajak yang lebih besar kepada orang-orang kaya untuk menyejahterakan orang miskin”. Kira-kira begitu slogannya. Sangat populis. Menyentuh. Menarik.
Tumbuh bersemi pada era 1990- an, sekarang hampir semua negara Eropa memiliki partai “populis sayap kanan”. Hampir seluruhnya. Mereka membesar walau belum menguasai parlemen. Ada juga yang bersimpati terhadap NAZI.
Namun, seperti biasanya, popularitas selalu punya godaan yang seksi. Bolsonaro, aktor utama sayap kanan dari Brasil itu, belum apa-apa sudah digoyang kasus. Anaknya, Flavio Bolsonaro, yang juga anggota parlemen, menjadi sorotan terkait rekening gendut yang mencurigakan. Uang itu mengalir lewat rekening sopir pribadinya, Queiroz. Ini dicium oleh lembaga COAF, semacam PPATK-nya Brasil.
Flavio membantah. Queiroz juga sama. Sang sopir berdalih, bahwa dia bukan hanya seorang sopir. Dia mengaku punya bisnis sampingan: jual beli mobil. Dari situlah uang itu berasal. Ya, jual beli mobil, entah mobil apa. Popularitas, bahkan elektabilitas, serta dipuja-puji rakyat, mau sayap kanan, kiri atau tengah, ternyata menyimpan godaan dan aibnya sendiri. Di manapun.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.